Sahabat

Rabu, 25 November. Ketika itu aku ingin melaksanakan ibadah Salat Zuhur di Masjid sekolahku, SMAN 5 Samarinda, Masjid Al Muttaqin. Kebetulan jarak antara kelasku dengan majid tak terlalu jauh. Bahkan, saling berhadapan (dilihat dari jendela). Waktu itu aku melewati pintu samping yang hanya terbuka jika waktu Salat Zuhur. Aku melewati sisi luar kelas (yang berupa jendela-jendela) XI IPS yang merupakan salah satu gedung tertua. Aku melihat aktivitas siswa-siswi XI IPS yang masih di kelas. Ketika aku melihat di kelas XI IPS x yang berjarak sekitar 1 kelas dari kelasku. Aku melihat Friza (sebut saja begitu), sahabatku sejak kelas X dan kami duduk bersama sejak Oktober 2008 dan berteman akrab hingga bersahabat. Namun, sejak kami naik ke kelas XI dan kami pun terpisah meski sama-sama IPS dan jarak kelasku dan kelasnya tak begitu jauh. Aku sempat merasa kehilangan karena dia sangat baik terhadapku dan kami selalu bersama bagaikan “saudara kembar”. Ya, namun hanya kembar nama panggilan saja. Jasa yang paling kuingat adalah dia mengantarkanku hampir setiap hari sehabis pulang sekolah ke depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur agar aku tak naik angkot dua kali. Jika aku ikut dengannya, aku bisa naik angkot satu kali saja. Namun jika tidak, aku harus naik angkot dua kali dari depan sekolah dengan Trayek A warna hijau dan berhenti di jalan tepian Mahakam. Setelah itu naik angkot Trayek G warna merah-jingga tujuan Harapan Baru.
Ketika itu aku melihat Friza di kelasnya melalui jendela kelas. Kusapa dia, ”Hai, Friz. Pulangan nanti sama-sama, ya!”. Sahutnya, ”Aduh, maaf. Aku pulang sama temanku”.

”O... ya sudah.” Setelah itu aku palingkan mukaku darinya yang kulihat dari jendela kelasnya. Saat itu aku sempat jengkel dengannya mendengar jawabannya. Seolah-olah aku disepelekan. Tahu, dia sekarang punya teman-teman baru. Apalagi dia ikut klub futsal yang diadakan kelasnya, tambahnya aku dipalingkan darinya. Aku sendiri tak ikut klub futsal yang diadakan kelasku. Bukannya aku tak suka futsal, tapi kemampuan finansial-lah yang menghalangiku ikut klub futsal. Seperti, aku tak punya sepatu khusus untuk futsal. Maklum, blogger yang ”tidak mampu”. Selain itu, jarak antara rumahku dengan tempat bermain futsal (yang biasanya disewa teman-teman kelasku untuk bermain futsal) terlalu jauh. Jika ditambah macet, waktu tempuhnya sekitar antara Samarinda-Tenggarong.
Setelah itu, aku menuju masjid. Melepas sepatu dan kaus kaki. Melangkah ke tempat perwuduan yang ubinnya panas. Maklum, saat itu matahari berada di atas kepala. Saat itu sedang pemadaman listrik sehingga suara azan tak terdengar ke seluruh sudut sekolah. Alhasil, makmum saat itu lebih sedikit dari biasanya (sebagian besar tak menyadari daripada menyadari akan tiba waktunya Zuhur). Jika saat itu Pak Khozien (julukan dari siswa-siswa nakal : BOBI – Botak Biadab), guru setempat, melakukan inspeksi dari kelas ke kelas untuk menyeru siswa-siswi beragama Islam untuk salat, pasti masjid penuh. Bahkan sampai serambi masjid. Kadang ada siswa-siswa yang lari ke kantin karena enggan untuk salat, mengetahui Pak Khozien datang melakukan sidak. Naudzubillah. Setelah melaksanakan salat zuhur, aku pun bersama teman sekelasku, Dedy, masuk ke dalam kelas menunggu datangnya Pak Sutrisno (julukan : Pak Ganteng, selain itu pernah membuat heboh anak-anak sekelasan karena muncul di TVRI Kaltim).
Waktu terus berlalu dan akhirnya jam pulang pun tiba (meski tak ada bunyi bel). Di sela-sela berjalan keluar sekolah, aku sempat bertemu kawan-kawan lama semasa di kelas X. Hubungan silaturahim masih terjalin baik. Setelah itu aku berjalan memikul tas dengan bahu menuju sebuah pohon untuk berteduh sementara dan datanglah Podung, teman sekelasku, seorang Protestan asal Minahasa kelahiran Jayapura. Batinku, ”Tumben-tumbennya si Podung ini pulang gak sama-sama si Nizar”. Kami duduk di sebuah pesemenan (tempat duduk dari semen dan diatasnya ada papan nama sekolahku). ”Tumben, Dung kamu gak barengan sama Nizar”. ”Katanya dia lagi sakit kepala, makanya dia malas memboncengi orang”, ujar pemilik nama lengkap Podung Juliver Romario. Namun, jika ia di tanah Minahasa, menurut adat Minahasa, namanya menjadi Juliver Romario Podung. Sedangkan jika di luar Minahasa, namanya ya Podung Juliver Romario. Jadinya, dia dipanggil Podung. Padahal Podung itu marga. Katanya, kalau di SMP dia dipanggil Rio. Entahlah. Aku tak mengerti adat suku dia. Yang penting urusan kependudukan aku tak ikutan, ya! Hehehe
Setelah berbincang beberapa menit dengannya, aku melihat si Friza membeli es jeruk yang penjualnya tidak begitu aku senangi karena aku punya kekesalan batin tentang pelayanannya yang tidak melayaniku saat aku ingin membeli minumannya. Aku berusaha memalingkan muka dengan terus berbincang dengan Podung. Aku masih jengkel dengannya sampai-sampai aku mengumpatnya melalui status facebook. Astaghfirullah.
Friza mendekati kami berdua (Aku dan Podung) dan Friza menawari Podung es jeruk (Friza berteman dengan Podung). Aku hanya berdiam, tapi dia menggodaku dengan menjawilku. Setelah itu dia pergi menuju parkiran dan tidak beberapa lama datanglah ia bersama si Febri, temannya satu kelurahan-nya (aku juga mengenalnya dari Friza sejak setahun lalu), seorang Katolik asal Flores, yang ia boncengi. Saat itu aku makin kesal terhadapnya dan Febri. Apalagi si Febri memakai helm. Mentang-mentang aku tak pakai helm jika ikut dengannya, jadi dia memilih memboncengi Febri karena takut razia polisi bila memboncengiku. Hrrrgh........

Setelah kedua orang tersebut pergi, aku berkata kepada Podung, ”Dung, ayo kita ke depan. Aku sudah muyak disini. Apalagi yang barusan lewat”. Setelah ke depan, si Podung menyeberangi Jalan Insinyur Haji Juanda kelurahan Air Putih untuk menaiki angkot trayek A tujuan Simpang Empat Lembuswana dan aku menunggu angkot trayek A (juga, tetapi) tujuan Karang Asam. Sebelumnya aku membeli koran Samarinda Pos seharga Rp2.500,00 di sebuah agen majalah di Simpang Empat Air Putih yang headline-nya waktu itu tentang kebakaran yang kedua kali di Samarinda Seberang. Saat kubaca artikel lain mengenai kriminal, Masya Allah. Aku terkejut. Ayah-nya dari Friza yang berinisial B (50) ditangkap polisi karena menjadi calo PNS dan menipu 2 orang yang hendak menjadi PNS dengan cara instan. Sepengetahuanku, beliau (B) pernah menjadi PNS dan pernah masuk bui juga. Sejak itu, aku prihatin dengan Friza. Aku kasihan padanya karena tekanan batin akibat cobaan yang menimpa keluarganya untuk kedua kalinya. Namun, entah mengapa kekesalanku belum terdegradasi. Ampuni aku, ya Tuhan.

Kamis, 26 November. Hari itu pun dia membuatku kesal dengan menuduhku bahwa aku sombong (kalau bahasa asli Samarinda-nya, ”ndik tahu-tahu muha”) dan lupa teman sendiri. Padahal dia sendiri yang membuatku begitu. Dia yang mencoba menjauh dariku. Dia juga lebih mementingkan temannya yang lain daripada aku. Dia hanya mau memeboncengi temannya yang membawa helm daripada aku yang tidak membawa helm standar karena takut dirazia polisi. Teman macam apa itu. Tapi, walaupun begitu, aku masih simpatik dengannya sebagai sahabatku. Oh, sahabat! Sadarlah engkau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian