Surat Tak Dikenal

Pulang sekolah, Aku selalu melewati pematang sawah yang bersebelahan dengan sekolahnya. Jalan itu memang jalan yang paling dekat dengan rumahku. Dulu sih ada jalan yang lebih nyaman, tapi sekarang buntu karena ada dinding yang dibangun oleh kontraktor untuk membangun perumahan. Setelah melewati pematang sawah itu kemudian Aku harus melewati tembok yang berlubang agar jalan ke rumahnya tidak terlalu memutar jauh. Tapi kalau lubang itu ditutup terpaksa Aku harus melewati jalan umum yang lumayan jauh.

Sore itu setelah pulang dari latihan pramuka, Aku langsung pulang karena latihan tadi sangat melelahkan. Aku berjalan dengan tergesa-gesa di pinggir tembok itu. Samar-samar didengarku, namaku dipanggil seseorang. Aku menoleh dan kulihat seorang anak laki-laki sedang berdiri menatapku dengan wajah sayu.

Aku mendekati anak itu dan bertanya apakah ia memanggil namaku. Dan ternyata anak itu mengangguk. Waktu ditanya apakah ia bersekolah di situ juga (Sekolahku, SMP x),sekali lagi anak itu Cuma mengangguk. Setelah diamati olehku, Aku berpikir bahwa Aku tidak pernah melihat anak itu di sekolahnya. ”Tapi Aku tak mengenalmu,” sahutku. Kemudian anak itu berbicara dan mengatakan bahwa Aku masuk sekolah ini setelah dia pindah. Dan memang Aku baru tiga bulan ini masuk sekolah setelah pindah dari Kota C.
Kami sempat mengobrol sebentar, sampai kemudian ia menyampaikan maksudnya. ”Tolong antarkan suratku ini ke rumahku, ya. Aku tidak bisa menyampaikannya sendiri”. Di amplop itu tertera alamat Jl. Anggrek Hitam No.15. Ketika Aku akan bertanya, dia lihat anak laki-laki itu tadi sudah menghilang. Padahal Aku masih belum sempat bertanya siapa namanya. Aku celingukan mencarinya. ”Mungkin dia sudah melewati lubang tembok itu,” Pikirku.

Alamat yang tertera di situ sebenarnya jauh dari rumahku. Tapi karena ingin membantu, aku menuju alamt di amplop itu. Sepanjang jalan Aku berpikir apa isi surat itu. Kenapa dia percaya padaku? Sebenarnya ingin rasanya besok saja mengantarkan surat ini, tapi waktu kulihat tatapan wajahnya penuh harap di wajahnya yang pucat, aku putuskan untuk mengantarkan sekarang saja suratnya itu.

Akhirnya kutemui juga alamat surat itu. Kusampaikan maksudku. Lalu yang menemuiku (seorang ibu) itu bertanya, ”Surat? Surat dari siapa, Nak?” Tanya wanita yang menemuiku. Aku juga bingung untuk menjawabnya karena aku lupa menanyakan nama anak itu. ”Dari anak laki-laki yang kutemui saat Saya pulang dari kegiatan pramuka tadi, Bu?” jawabku.

Ibu itu kemudian kulihat menangis saat membaca surat itu. Tangannya gemetar dan tangisnya bertambah kencang. Aku semakin bingung melihat kejadian ini, apalgi kemudian suami dan anak perempuannya ikut menangis saat mereka juga membaca surat itu. Setelah tenang, mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa anak itu adlaah anak mereka yang bernama Ardi yang menghilang tiga bulan lalu saat pulang sekolah. ”Bisakah Nak Marsha mengantarkan kami dan yang lain ke tempat Ardi menitipkan surat itu? Nanti bapak akan mengantarkan kamu pulang,” pinta bapak itu.

Begitu sampai di lokasi yang kuceritakan, pihak tim SAR segera mencari dan ditemukanlah mayat anak laki-laki (yang diyakini adalah Ardi) itu yang telah menjadi tulang belulang dan pihak keluarga segera melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa tulang belulang manuasia itu adalah mayat anak mereka. Dari surat itu terungkaplah bahwa ia telah diculik dan dibunuh oleh pembantu rumahnya sendiri. Cuma yang tidak habis kupikir, mengapa anak yang sudah tewas memberikan surat kepadaku*.

Sebagaimana yang diceritakan oleh Marsha (bukan nama sebenarnya).

* = menurut pendapat penulis, anak yang sudah tewas itu memberikan surat kepada Marsha agar keluarganya tahu di mana keberadaan anak mereka yang dibunuh oleh pembantu rumahnya sendiri. Bila tidak, mungkin kisah ini tidak akan termuat di blog ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian