Sweet Seventeen of Dona

Rabu, 9 Desember 2009.

Seperti biasa, aku bersekolah (studi). Ketika sedang duduk, Dona memberikanku sebuah undangan ulang tahunnya yang unik. Terselip di dalam sejenis sedotan yang berhiaskan tali berwarna emas-perak. Ya, hari itu si Ella Dona Fita (panggilan khususku, Dondon) berulang tahun yang ke-17. Sweet Seventeen dong! Ternyata aku lebih muda 7 bulan darinya. Hehehe

Sepulang sekolah, aku tak pulang dahulu. Melainkan menemani sohibku, Dedi, yang juga diundang oleh Dona, untuk membeli kado ulang tahun buat Dona. Sebelumnya, dia mengajakku ke rumahnya yang berada di Pasar Kedondong dalam masuk gang di Kelurahan Karang Asam Ilir, Sungai Kunjang, Samarinda untuk berganti pakaian dan ’meminta uang’ ke ortunya. Setelah itu, kami langsung tancap gas menuju sebuah toserba yang bernama Gede 69 di Jl. RE Martadinata, Teluk Lerong Ilir, Samarinda Ulu. Kami berkeliling di sepanjang toko tersebut untuk mencari kado yang pas untuk Dona.

Setelah menemukan kado yang pas, kami beranjak dari toko tersebut dan kemudian aku meminta kepada Dedi untuk diantarkan di depan kantor gubernur Kalimantan Timur (tempat mangkalku untuk menunggu angkot (Bahasa Sini:Taksi) sejak kelas X, waktu itu adalah Ari-sohibku juga yang sekarang jarang bersama karena berbeda kelas- yang mengantarkanku hingga depan kantor gubernur. Tapi sekarang ia lebih memilih memboncengi Gatot (teman sekelasnya), Febri (teman sekelurahannya), dan yang terbaru, Mina (pacar barunya) daripada aku. Paling-paling aku berboncengan dengannya saat hari jumat ketika pada waktu itu kami sama-sama salat jumat di masjid sekolah).
Saat menuju depan kantor gubernur, aku melihat Monumen Patung Pesut Mahakam (berlokasi di Tepian Jl. Gajah Mada, Kp. Jawa, Samarinda Ulu) yang air mancur-nya menyala. Biasanya jarang air mancur monumen pesut tersebut mengeluarkan air yang memancurkan. Tak buang-buang waktu, aku langsung mengajak Dedi untuk mengambil gambar masing-masing.

Setelah melakukan ’sesi pemotretan’, aku pamit pulang pada Dedi untuk menunggu taksi di dekat Dermaga Pemprov dengan berjalan kaki. Dia pun segera meninggalkanku.
20 menit berselang, taksi G warna Jingga-Merah muncul juga dan aku segera memberi tanda isyarat pertanda menyetopkannya.

Sesampainya di rumah, aku langsung sibuk-sibuk membongkar kardus yang berisi mainan-mainan dan aksesoris-aksesoris bekas barang jualan mamaku di pasar yang tak sempat laku terjual (barang masih bagus) dan aku menemukan sebuah tas berbentuk buah stroberi dan keselipkan juga tas berbentuk beruang. Namun, aku lupa membeli kertas kado. Sesegera mungkin aku membeli kertas kado di warung. Setelah membeli dan kucoba membungkusnya, ternyata belum cukup dan aku harus membelinya lagi (kertas kado dengan motif hati). Kali ini dua buah. Setelah dirasa cukup, aku langsung membungkus hadiah untuk ulang tahun Dona dengan rapi.

HUJAN MENGHADANGKU

Jam 5 sore. Aku beranjak untuk mandi dan bersiap-siap jalan ke rumah Dona. Namun, ketika selesai mandi, hujan turun. Aduh, bagaimana ini? Sementara motor, alat transportasi yang akan kupakai untuk ke sana, masih belum datang karena dipakai kakakku (biasa kupanggil dengan vokal Â). Waktu mau menyeterika baju, e..e..e.. lampu mati. Untungnya Cuma sebentar dan bersamaan dengan itu, datanglah kakak perempuanku. Segera saja aku siap-siap untuk menghindari hujan yang lebih deras. Dan memang, hujan sangat deras. Untung saja aku berteduh dan sekalian Salat Magrib di Masjid Islamic Center Samarinda-yang disebut-sebut sebagai masjid terbesar se-Asia Tenggara-. Tiba-tiba Dedi mengirim pesan ke nomor ponselku saat hujan berangsur-angsur reda untuk segera ke bagian menara masjid (Menara Asmaul Husna) karena dia akan pergi bersamaku (sebab, dia tak tahu rumah Dona).


Kemudian, kami melesat menuju rumah Dona yang beralamat di Jl. Argamulya Dalam No.43 (sesuai undangan) dengan resiko terciprat genangan air di jalan sehabis hujan.
Kami sempat berkeliling di sekitar Jl. Argamulya Dalam (seharusnya Jl. K.S. Tubun Dalam) dan tidak menemui rumah yang sedang ada acara (semula kami mengira sebuah rumah yang banyak orangnya adalah rumah Dona, ternyata lain, malah acara ”Pengajian” orang Nasrani). Kami pun malah tersasar lebih jauh ke Jl. K.S. Tubun Luar (menuju Pusat Kota). Setelah menelepon Ghia (teman Dona dan kami, yang tak bisa datang ke acara ulang tahunnya Dona karena hujan deras di tempat tinggalnya), akhirnya kami tahu tempatnya. Setelah menelusuri Jl. Karel Satsuit Tubun dalam, kami melihat, ”Itu dia rumah Dona” karena di situ ada Ivan, teman sekelas kami dan Dona yang sendirian di pelataran rumah Dona. Ku memanggilnya,”Ivan!”. Ternyata memang Ivan. Ya, kami masuk ke pelataran rumah si empunya acara tanpa masuk ke dalam rumahnya karena menunggu teman-teman sekelas yang lain (yang siapa tahu) tidak tahu rumah Dona. Setelah satu persatu para undangan datang, kami dipersilahkan masuk (dan membubuhkan tanda tangan sebagai tanda hadir) dan acara doa dimulai. Tak ada acara yang menonjol dan berlangsung sederhana namun meriah.

Setelah acara doa selesai, kami-para undangan- dipersilahkan untuk menikmati hidangan.
Setelah itu, satu persatu para undangan mulai pulang ke rumah masing-masing karena hari akan hujan (lagi). Dan ternyata benar, hujan turun. Untung hujan lokal, jadi tak kebasahan tingkat tinggi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui