Wartawan Rumah Hantu

Adit-sebut saja demikian-adalah seorang wartawan foto. Tapi dia juga melayani foto-foto ulang tahun, perkawinan, dal lain-lain. Dia sangat senang dengan profesinya itu dan kemana saja dia pergi kameranya tidak pernah ketinggalan.

Suatu hari dia bertemu teman akrabnya, Hardi-sebut saja demikian- yang sudah agak lama tidak bertemu. Hardi memang sengaja mencari Adit untuk disuruh memuat foto aneh tapi nyata itu ke majalahnya. ”Kamu dapat foto ini darimana, Har?” kata Adit. ”Saya dapat dari orang. Yang jelas, foto ini aneh, ’kan!” jawab Hardi. ”Iya, iya, tapi ini tidak mungkin. Jangan-jangan nanti beritanya malah ditertawakan orang karena keluar dari logika alias tidak masuk akal. Keadaan dan sifat kamera ini adalah logika dan sistemnya elektronik. Jadi artinya apa yang tampak nyata, itu bisa direkam oleh lensa kamera ini dan tidak bisa yang bersifat gaib-gaib begini. Dan lagi, kamu, kok masih juga percaya pada hal-hal yang semacam itu, Har!”. Setelah itu Adit berkata lagi, ”Sudah, begini saja, kamu temui orang yang memberimu foto ini dan sampaikan kepadanya bahwa foto ini hasil rekayasa belaka dan kalau dia bisa menunjukkan film klisenya, baru aku percaya dan itu pun harus kita buktikan bersama dengan memotret ulang tempat angker itu. Karena saya yakin bahwa bangsanya jin, setan, hantu, dan lain-lain itu adalah tidak bisa difoto.”

Saat menjelang waktu magrib, Adit didatangi seorang yang dia tidak kenal. Tubuhnya tegap tinggi, rambutnya panjang diikat dan berkumis panjang. Dia memberikan sebuah kartu nama dan Adit diminta datang ke alamat tersebut untuk memotret acara anaknya yang ulang tahun nanti malam dan pestanya akan dimulai pukul 23.00 (jam sebelas malam).

Jam setengah sebelas malam Adir sudah berangkat mencari alamat yang sesuai dengan katu nama tadi. Ternyata tidak begitu jauh juga dari rumahnya. Tapi betapa terkejutnya Adit setelah dia melihatsebuah bangunan bagai istana seperti dalam negeri dongeng. ”Waaah... Saya kok nggak pernah tahu ya kalau di sini ada bangunan semewah ini. Tapi, ya sudahlah ini ’kan kenyataan. Saya bukan sedang bermimpi.”
Setelah dipersilahkan masuk, Adit langsung mempersiapkan kameranya, sebab acaranya segera dimulai dan Adit pun juga mulai jeprat-jepret memotret yang sedang berulang tahun dan juga para tamu yang sedang berpesta besar. Pikir Adit, ”Hebat sekali pesta ini, makanan dan minuman apa saja semua ada.” Dan ternyata Adit juga dipersilahkan makan dan minum sepuasnya. Sambil makan, Adit berpikir betul-betul kaya raya istana dan perabotan rumah serba mewah juga perhiasan yang berkilauan yang dikenakan setiap orang yang hadir dalam pesta itu. Adit merasa heran, karena tidak satu pun orang yang hadir di pesta it yang ia kenal. Setelah makam dan minum sepuasnya, Adit merasa mengantuk sekali, matanya sulit untuk dibuka daan akhirnya dia tertidur di atas kursi. Tidak tahu berapa lama dia tidur, tapi yang jelas dia tidur sangat pulas sekali dan hari itu telah pagi.

Setelah dia terbangun, betapa terkejutnya Adit karena dia berada di atas dahan pohon beringin yang besar di tengah-tengah kuburan tua. Sambil gemetaran, dia berusaha berteriak minta tolong. ”Tolong! Tolong! Tolong!” beberapa warga yang mendengar teriakan itu yang diyakini berasal dari kuburan, maka beberapa warga segera menujuke sana dan terkejut melihat warganya-Adit-berada di atas pohon. Setelah itu beberapa warga yang lain membawa tangga dan berharap akan menurunkan Adit.

Sambil berterima kasih kepada orang-orang kampung itu, Adit buru-buru pulang untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau dengan kejadian semalam. Perasaannya jadi ingin segera mencoba mencetakkan hasil jepretannya tadi malam. Betap terkejutnya Adit, setelah jadi foto-foto itu ternyata nampak wajah-wajah yang menyeramkan. Padahal yang dia potret semalam orang-orang tampan-tampan dan cantik-cantik. Ya, sudahlah! Wallahu A’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian