2 Insiden Penerbangan dalam Sepekan

Hanya dalam satu minggu saja (lebih tepatnya rentang 5 hari), 2 insiden dalam dunia penerbangan di Kalimantan Timur terjadi. Tentunya ini menjadi keprihatinan semua pihak. Apalagi diketahui bahwa transportasi udara merupakan transportasi yang cukup penting di Kaltim mengingat beberapa daerah di Kaltim tidak bisa dijangkau oleh darat karena tidak ada sarana jalan darat. Di sebuah koran lokal di Kaltim menyebutkan bahwa 90% bandara di Kaltim tidak layak (karena landasan kurang panjang, stasiun meteorologi belum ada di bandara tersebut sehingga tidak bisa memantau cuaca ketika pesawat akan tinggal landas atau akan mendarat). Berarti, hanya 10% saja bandara di Kaltim yang layak. Dan anda pasti bisa menebak, pasti bandara itu adalah bandara-bandara besar dan karena tidak layak itulah ancaman terjadinya kecelakaan pesawat di bandara yang tak layak tersebut berpotensi sangat besar. Berikut ini adalah rangkuman berita mengenai 2 insiden penerbangan di Kaltim dari berbagai sumber.

Pesawat Trigana Mendarat Darurat di Rawa Samboja
Kamis, 11 Februari 2010 pukul 11.30 wita
Samboja. Kecelakaan penerbangan terjadi di Kaltim kemarin. Akibat mesin kiri mati mendadak, pesawat Trigana Air rute Berau-Samarinda mendarat di Kelurahan Bukit Merdeka, RT 7, Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar). Lokasinya sekitar 5 kilometer dari jalan poros Km 45 Balikpapan-Samarinda. Peristiwa itu terjadi pukul 11.30 Wita.
Pesawat beregister PK-YRP dengan nomor penerbangan TGN 162 berkapasitas 48 penumpang itu, sebenarnya sudah dalam posisi siap mendarat di Bandara Temindung, Samarinda. Namun sesaat sebelum mendarat, tiba-tiba mesin pesawat sebelah kiri tak berfungsi.
Pilot pesawat, Nursolihin pun mencoba meminta izin menara pengawas (air traffic control/ATC) Bandara Temindung untuk mendarat darurat. Namun pihak menara pengawas tidak mengizinkan. Alasannya, lokasi Bandara Temindung yang sangat tidak aman untuk pendaratan darurat.
Selain landasan pacu yang pendek yakni cuma hanya 950 meter, di sekeliling bandara juga dikepung pemukiman warga. Belum lagi beberapa bangunan tinggi sekitar bandara yang menyulitkan pendaratan darurat. Karena itu, pesawat dialihkan ke Bandara Sepinggan, Balikpapan.

"Untungnya, saat pesawat diputuskan tak boleh mendarat di Bandara Temindung, posisi badan pesawat bisa kembali diangkat dan mengudara ke arah Balikpapan," sebut Kepala Bandara Temindung Samarinda, Samsul Banri.

Namun belum sempat sampai di Balikpapan, pendaratan terpaksa dilakukan di areal rawa-rawa di Samboja, di kilometer 41 Balikpapan atau sekitar 18 mil laut (nautical mill/NM). Areal rawa yang dipilih pilot sebagai lokasi mendarat darurat untuk menghindarkan percikan api. Sebelum mendarat, posisi mesin kanan juga sudah mati.
Pesawat buatan Aerospatiale Perancis dan Aeritalia Italia itu mengangkut 43 penumpang dewasa, 1 anak-anak dan 2 bayi. Selain mengangkut 51 orang, termasuk kru, pesawat Avions de Transport Regional (ATR) bermesin twin-turboprop itu juga mengangkut kargo 74 Kg dan bagasi 451 Kg.

Roesmanto, Kasie Keamanan dan Keselamatan Penerbangan (K3P) Bandara Temindung Samarinda mengungkapkan, pesawat melakukan kontak terakhir dengan Bandara Temindung pukul 11.20 Wita. Menurut Roesmanto, pilot melakukan pendaratan darurat karena mesin kanan pesawat juga mati akibat tenaganya terforsir. Maklum, pesawat terbang hanya dengan satu mesin mulai dari Samarinda.

"Keputusan pilot sudah tepat. Jarak pandang cukup untuk melakukan pendaratan darurat," ungkap Roesmanto.
"Sepuluh menit sebelum mendarat di Bandara Temindung, mesin kiri pesawat mati. Pilot mengumumkan, pesawat harus mendarat di landasan yang panjang," ungkap Iwan (38), penumpang Trigana Air, kemarin.

Menurut Iwan, walaupun mengalami penerbangan tidak normal, pesawat tetap melakukan penerbangan menuju Bandara Sepinggan.
Memasuki Samboja Kutai Kartanegara, mesin kanan yang diharapkan mampu bertahan hingga Bandara Sepinggan juga mati. Pilot mengambil keputusan melakukan pendaratan darurat. "Waktu mesin satunya mati, saya waswas. Pilot memanggil dua pramugari masuk ke ruang kabin. Setelah itu pramugari keluar dan duduk menggunakan sabuk pengaman," tambahnya.

Dandi (19) penumpang asal Berau mengungkapkan, saat kedua mesin pesawat mati, pesawat sempat berputar-putar beberapa menit. "Saya tidak tahu maksud pilot berputar-putar, tetapi kemudian pramugari berteriak emergency landing dan menyuruh kami menerapkan langkah keselamatan. Kami menunduk dan beberapa penumpang juga berteriak," ungkapnya.

Kepala Badan Pelayanan dan Perizinan Terpadu Kabupaten Berau Mansyah Kelana, beserta istrinya Mariah, yang turut menjadi korban pesawat mati mesin itu mengaku bersyukur semua penumpang bisa selamat. "Saya kebetulan ada tugas dinas ke Samarinda. Sekaligus istri mau kontrol penyakit jantung," sebut Mansyah ketika dihubungi kemarin.

Ia membenarkan, mesin pesawat sebelah kiri sempat mati saat pesawat akan mendarat di Samarinda. "Saya dapat informasi kemudian dialihkan ke Balikpapan. Tapi malah mendarat dilumpur. Alhamdulillah, Allah masih melindungi," sebutnya.

Mansyah mengaku salut dengan upaya pilot mencari lokasi mendarat yang tepat. "Tidak ada ledakan, semua penumpang selamat. Kondisi mesin pesawat juga sudah mati semua. Alhamdulillah," ucapnya.

Beberapa saksi mengatakan, saat pendaratan, pesawat sempat tergelincir sekitar setengah kilometer. Akibat pendaratan di padang rumput berair ini, badan bawah pesawat mengalami kerusakan parah dan jebol. Sementara bodi pesawat penuh lumpur.
Sebelum berhenti, pesawat sempat berputar 90 derajat ke arah kanan dari posisi mendarat. Bekas terseretnya pesawat, membentuk jalur di atas tanah berlumpur yang sebelumnya ditutupi ilalang. Di jalur itu, beberapa bagian pesawat berserakan.
Kondisi di dalam kabin penuh lumpur. Beberapa tempat duduk penumpang terutama di dekat pintu masuk bagian depan rusak. Roda pesawat tak keluar dan ada kerusakan parah di perut pesawat, tepatnya di bagian bawah pesawat sejajar dengan sayap kanan.
"Yang luka penumpang yang duduk di tengah pesawat," ungkap Rahmi (17), penumpang dari Berau.

Dalam kecelakaan tersebut, 4 orang diantaranya merupakan penumpang asal kota Tarakan. Ranti Jumiarni, istri korban bernama Tajjudin Nur di Tarakan menyebutkan, pukul 09.00 Wita, pesawat Trigana Air take off dari Tarakan menuju Berau. Sekitar pukul 11.30 Wita, sang suami mengirimkan pesan pendek yang menyatakan pesawat kecelakaan.

"Suami saya kirim SMS bilangnya pesawat kecelakaan. Tidak ada sama sekali firasat apapun. Malah saya pikir ini cuma becanda. Tapi ternyata serius, saya masih syok sampai sekarang," aku Ranti di Bandara Juwata Tarakan.

Penumpang segera dievakuasi ke RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti, Samboja. Triyanti, penumpang asal Samarinda yang patah kaki dan Kusni, penumpang asal Tanjung Selor yang kakinya luka, dirujuk ke RS Pertamina Balikpapan (RSPB).

Sedangkan Syafrudin dirawat di RS Haji Darjad Samarinda. Tiga penumpang itu mengalami patah tulang kaki dan luka gores akibat serpihan badan bawah pesawat yang berbenturan dengan tanah.
Koordinator Wilayah Kerja Bandara Sepinggan Heru Sasongko mengungkapkan, 19 penumpang yang diangkut bus dari lokasi kejadian ke Bandara Temindung Samarinda keadaannya cukup stabil. "Kami memantau perkembangan penumpang di sini. Kebanyakan mengalami trauma psikologis dan trauma fisik," kata Heru.

Ramp Supervisor Trigana Air, Danang menyebutkan, semestinya pesawat tersebut setelah tiba di Samarinda, akan terbang kembali ke Berau. Kemudian dari Berau kembali lagi ke Samarinda dan selanjutnya menuju Balikpapan.
Dari Balikpapan, kemudian pesawat akan terbang kembali ke Berau. Diteruskan ke Tanjung Selor, kemudian ke Tarakan dan menginap (return over night/RON) di Tarakan. Dengan kecelakaan itu, rute lanjutan dari pesawat ini pun otomatis dibatalkan.
Station Manager Trigana Air Dwi Adi Setyanto mengelak jika pesawat yang celaka itu dikabarkan baru seminggu berada di Kaltim dan tidak layak terbang. "Kami sudah melakukan pengecekan rutin, dan pesawat sangat layak terbang," katanya.

Sementara itu, Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) kemarin sore juga sudah tiba di Balikpapan. Kepala Bidang Perhubungan Udara Dinas Perhubungan Kaltim, Tunas Partomo menyebutkan, diharapkan hari ini tim dari KNKT sudah bisa langsung melakukan peninjauan ke lokasi pendaratan Trigana Air. Dengan demikian sebab-sebab kecelakaan bisa segera diketahui.

Ratusan warga berbondong-bondong mendatangi lokasi kejadian. Meskipun harus melewati sungai selebar 3 meter dengan menggunakan batang kayu sebagai jembatan, warga terus berdatangan hingga sore kemarin. Sejumlah petugas Satuan Lalu Lintas dan anggota Dinas Perhubungan ditempatkan untuk mengatur lalu lintas kendaraan.

Tahrir, petani yang melihat saat pesawat mendarat darurat mengatakan, kaget ketika pesawat lewat di atas pondoknya. "Terbangnya rendah, kemudian pesawat berputar sekali, lalu tiba-tiba mendarat. Suaranya nyaring sekali, sekitar beberapa detik," terang warga Bukit Merdeka ini.

Pria paruh baya ini segera menuju lokasi kejadian yang jaraknya 1 kilometer dari pondok. "Tetapi waktu saya ke sini, sudah ramai. Penumpang sudah keluar dan banyak warga yang membantu membawa penumpang tadi," kata dia.

Waktu melakukan pendaratan, diduga pilot sengaja tak menurunkan roda pesawat. Karena kalau pakai roda, bisa-bisa terganjal oleh medan, sehingga pesawat malah terjungkir ke depan. Karena itu, lantai pesawat robek dan lumpur yang ada di rawat masuk ke dalam kabin pesawat," terang salah seorang staf operasional Trigana Air saat berada di lokasi.

Sejumlah pejabat utama Polda Kaltim tampak juga meninjau lokasi pendaratan darurat tersebut. Mulai dari Wakapolda Brigjen Pol Bachrul Effendi, Direktur Intelkam Kombes Pol Rudi Pranoto, Direktur Reskrim Kombes Pol Idris Kadir, Direktur Lalu Lintas Kombes Pol Istiono dan Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Antonius Wisnu Sutirta.
"Alhamdulillah, seluruh penumpang selamat. Saya sangat salut dengan keberhasilan pilot mendaratkan pesawat di lokasi ini. Kondisi pesawat juga relatif utuh," tegas Bachrul.

SEBUT JATUH
Humas Angkasa Pura I Bandara Sepinggan Balikpapan Abdullah Husein mengatakan, pesawat Trigana Air TR 42-300 yang mengalami insiden di kawasan rawa-rawa itu bukan mendarat darurat, melainkan jatuh.

"Sebab, sekitar pukul 11.00 Wita, pesawat masih melakukan kontak dengan Bandara Sepinggan dan akan menuju kemari. Tak lama, tiba-tiba pantauan radar bandara terputus. Jika mendarat darurat, pilot pesawat akan memberitahukan bila ingin mendarat darurat. Sedangkan ini tidak, kontak dengan pesawat tiba-tiba hilang, jadi kami anggap jatuh," terangnya yang ditemui di kantornya kemarin.

Ia juga menginformasikan, pesawat itu akan menuju Balikpapan karena sudah mengalami gangguan di udara, sehingga jika mendarat di Balikpapan lebih mempermudah untuk perbaikan. Karena fasilitas di Bandara Sepinggan cukup lengkap.

"Memang ke Samarinda lebih dekat. Tapi mungkin ada pertimbangan lain dari pilot mengapa akan mendarat di Balikpapan," katanya.
Soal gangguan yang dimaksud, Abdullah tidak tahu secara pasti. "Mungkin biar KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Red) yang memberikan pendapat," ucap Abdullah.


Pesawat SMAC Tergelincir
Senin, 15 Februari 2010 pukul 10.05 wita
Long Ampung. Belum genap seminggu insiden pendaratan darurat pesawat Trigana Air di Samboja, Kutai Kartanegara pada Kamis (11/2), dunia penerbangan di Kalimantan Timur kembali diselimuti awan hitam. Pesawat Casa 212/200 milik PT Sabang Merauke Raya Air Charter (SMAC) yang terbang dari Samarinda dengan tujuan Long Ampung, tergelincir hingga sekitar 50 meter dari ujung landasan Bandara Long Ampung, Kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, Senin (15/2) kemarin sekitar pukul 10.05 Wita.

Pesawat dengan registrasi PK – ZAQ itu tergelincir dan terjerembab di padang ilalang setelah saat pendaratan terkena dorongan angin cukup kencang dari belakang pesawat. Beruntung semua penumpang selamat, termasuk wartawan Kaltim Post Endro S Effendi yang ikut dalam penerbangan itu.

Pesawat yang melayani penerbangan bersubsidi pemerintah itu, bertolak dari Bandara Temindung Samarinda pukul 08.55 Wita. Dikemudikan Kapten Pilot Wahyudi dan Copilot Irwin Aristo, pesawat itu lepas landas dengan mulus dengan kondisi cuaca cerah. Sebelum berangkat, Pilot Wahyudi juga sempat mendapat konfirmasi jarak pandang di Bandara Long Ampung hanya 800 meter. Namun Wahyudi yakin, dengan kondisi cuaca cerah, jarak pandang akan cepat berubah.

Tak hanya membawa 15 penumpang, belum termasuk pilot, copilot, dan teknisi, pesawat juga membawa barang bawaan penumpang yang umumnya bahan-bahan kebutuhan pokok, seperti telur, minyak goreng, mi instan, dan gula. Kargo yang dibawa 200 kg, sementara bagasi penumpang sekitar 300 kg. Sehingga total barang yang diangkut 500 kg.

Meski pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) Bandung -sekarang PT Dirgantara Indonesia- itu berkapasitas 22 penumpang, namun jumlah penumpang yang dibawa tidak bisa maksimal. Sebab kondisi Bandara Temindung yang memiliki landasan pacu 950 meter, tak memungkinkan pesawat ini membawa penumpang penuh. Ditambah lagi banyaknya barang bawaan penumpang.

Setelah terbang sejauh 157 mil dengan ketinggian 8.500 kaki dari atas permukaan laut, pesawat yang sebelumnya banyak beroperasi di Medan dan Aceh ini bersiap mendarat. Tidak ada tanda-tanda aneh dengan pesawat ini. Namun beberapa saksi mata di Bandara Long Ampung menyebutkan, saat mendarat posisi pesawat tidak tepat di ujung landasan, melainkan agak di tengah landasan. Sehingga ketika menyentuh aspal, pesawat sempat tidak stabil ditambah adanya dorongan angin dari belakang pesawat.
Penumpang pun tidak merasakan sesuatu yang ganjil saat ban pesawat buatan tahun 1987 itu menyentuh aspal landasan. Namun setelah beberapa saat ban pesawat menyentuh aspal, tiba-tiba terjadi goncangan keras. Laju pesawat makin kencang. Sejurus kemudian, pesawat keluar dari landasan dan terjerembab di padang ilalang.

Saat itulah penumpang mulai panik. Kedua mesin masih terdengar menyala. "Tenang, penumpang tenang. Tidak apa-apa. Tenang," ujar teknisi Ramli, staf Bandara Temindung Samarinda yang kemarin juga ikut dalam penerbangan tersebut. Pilot dan copilot terlihat tenang, meski di depan kacanya tertutup rerumputan. Setelah menenangkan diri, pilot kemudian mematikan semua mesin pesawat dan barulah memperbolehkan penumpang keluar. Teknisi Ramli yang ada di bagian belakang beserta pilot dan copilot membantu melakukan evakuasi penumpang.

Sementara warga yang berada di sekitar bandara, langsung berlarian membantu proses evakuasi penumpang. Sebagian warga lainnya sibuk mengabadikan pesawat yang berada di balik semak-semak itu dengan kamera HP.


Beberapa anggota TNI yang berada di Bandara Long Ampung langsung ke lokasi membantu melakukan pengamanan. Pengamanan dilakukan mengingat pesawat masih menyimpan bahan bakar sekitar 1.100 liter, setelah sebelumnya dari Samarinda tangki bahan bakar diisi 1.500 liter.

Pilot Wahyudi segera ke kantor bandara melakukan koordinasi dengan perusahaan tempatnya bekerja, sekaligus mengabarkan kejadian itu melalui warung telekomunikasi satelit di bandara ini.

Para penumpang yang umumnya warga Kecamatan Kayan Selatan itu langsung syok. Beberapa penumpang wanita terlihat menangis sambil berpelukan dengan kerabatnya yang sedianya menjemput kedatangan mereka di bandara.

LAYAK TERBANG
Menurut Pilot Wahyudi, kondisi pesawat layak terbang. Setelah tergelincir pun, pesawat tidak mengalami kerusakan berarti. Karena itu rencananya pesawat akan ditarik ke landasan dengan alat berat. Namun sebelum itu dilakukan, masih harus menunggu pemeriksaan dari tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Departemen Perhubungan Kaltim.

Wahyudi menyebutkan, adanya angin yang tiba-tiba memang sangat menyulitkan. Dorongan angin itulah yang menurut dia, menyebabkan pesawat keluar dari landasan. "Maaf ya Mas, penerbangannya kurang menyenangkan. Jangan kapok ya," ucap Wahyudi.

TUNGGU KNKT
Kepala Bandara Temindung Syamsul Banri belum bisa menyimpulkan penyebab tergelincirnya pesawat itu. “Apa karena human error atau kerusakan mesin, nanti tunggu tim dari pusat melakukan pemeriksaan di lokasi,” kata Syamsul Banri dikonfirmasi tentang kejadian itu kemarin siang.

Menurutnya, pesawat yang saat ini sudah berusia 17 tahun itu kondisinya masih sangat bagus. Karena itu, dinilai masih sangat layak untuk terbang. “Kalau memang sudah ada izin terbang berarti pesawat layak terbang,” tutur Syamsul. Pesawat, terang dia, saat ini masih dibiarkan dilokasi tergelincir. Karena, pihaknya masih menunggu tim dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan pemeriksaan.
Terpisah, Kabid Perhubungan Udara Dinas Perhubungan (Kaltim) Tulus Partomo ketika bincang petang kemarin juga belum bisa memberi keterangan tentang penyebab tergelincirnya pesawat tersebut. Menurutnya, setelah pihaknya mendapatkan informasi tentang kejadian itu, tim dari pusat langsung menuju lokasi kejadian. Tim dari KNKT itu, terang dia, diperkirakan tiba di Malinau tadi malam atau hari ini (16/2).

KNKT belum memutuskan untuk menurunkan tim ke Long Ampung. “Saya belum mendapat laporannya karena saya baru saja dari Makassar. Tetapi yang jelas jika itu masuk insiden serius kita akan turunkan tim,” terang Juru Bicara KNKT JA Barata yang dihubungi Kaltim Post petang kemarin. “Jika ada yang turun duluan, berarti itu tim dari Dirjen Perhubungan Udara,” tambahnya.

Menurutnya, substansi insiden serius itu adalah jika kejadian itu menyebabkan kerusakan struktur pesawat. Jika tidak sampai menyebabkan kerusakan struktur pesawat, maka yang berhak melakukan investigasi adalah Dirjen Perhubungan Udara atau Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara.

“Jadi KNKT menggunakan kriteria teknis dan kriteria akibat. Ada tiga kita gunakan yaitu incident (insiden), serious incident (insiden serius) dan accident (kecelakaan),” sebut dia.

Ia memaparkan, insiden jika peristiwa tidak menyebabkan kerusakan struktur pesawat, serious incident jika terjadi kerusakan struktur, dan accident jika terjadi kerusakan struktur serta ada korban.

Oleh karena itu, pihaknya akan menunggu laporan dari Bandara Long Ampung. Jangan sampai tim sudah diturunkan, tidak termasuk yang ditangani KNKT.
Sekadar diketahui, pesawat SMAC sendiri baru resmi melayani rute Samarinda-Long Ampung pada Senin (8/2), atau belum genap 10 hari. Maskapai ini menggunakan pesawat jenis Cassa 212-200 berkapasitas 22 orang. Bersamaan dengan rute Samarinda-Long Ampung, diresmikan pula rute Samarinda-Data Dawai dan Data Dawai-Melak. Secara periodik, rute Samarinda-Long Ampung akan dilayani tiga kali dalam satu minggu dengan sistem subsidi dari APBN. Karena, daerah tersebut termasuk wilayah perbatasan dengan negara tetangga Malaysia dan termasuk kawasan terpencil.

Sebelumnya, rute Samarinda-Long Ampung hanya dilayani pesawat carteran yang frekuensinya tidak regular dengan harga tiketnya yang cukup mahal karena menggunakan sistem timbangan, Rp 25.500 per kilogram.

Insiden kemarin merupakan peristiwa kedua kecelakaan pewasat di Long Apung. Sebelumnya, 26 Januari 2008 silam, pesawat Casa-212 milik PT Dirgantara Air Service (DAS) juga jatuh saat akan mendarat di Long Ampung. Pesawat PK-VSE milik DAS itu jatuh di kawasan Sungai Barang, sekitar 8 kilometer dari Long Ampung, Kecamatan Kayan Selatan Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur (Kaltim). Saat ditemukan, tiga awak pesawat tewas. Mereka Kapten Pilot Sumiskun, Kopilot Clifort Watimena, dan mekanik Darsono. Sebelum jatuh, pesawat bernomor register PK-VSE dan mengambil rute Tarakan-Long Ampung itu sempat kehilangan kontak.

Pesawat yang mengangkut material untuk proyek pembangunan listrik di Long Ampung itu take off dari Bandara Juata Tarakan.

Saat ditemukan tim Search and Rescue (SAR), kondisi pesawat sudah hancur total dan dinyatakan total lost. Sayap kanan pesawat patah dan terbakar. Pilot dan copilot ditemukan sudah tidak bernyawa, begitu pula mekaniknya. Lokasi jatuhnya pesawat di kawasan perbukitan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui