Si Jago Merah Samarinda di Awal Februari

Memasuki awal Februari 2010, hanya dalam waktu 10 hari saja, 5 kebakaran sudah terjadi di Kota Samarinda. Jadi, jika dibagi secara kasar, Samarinda bebas dari musibah kebakaran selama 2 hari. Musibah ini masih menjadi momok bagi warga kota. Di awal Februari tersebut, hampir setiap hari Samarinda dibuat ramai oleh suara sirine dari puluhan armada mobil pemadam kebakaran. Stasiun televisi nasional juga menayangkan berita tentang kebakaran di Samarinda. Koran-koran lokal juga setiap hari menyajikan berita terkini seputar kebakaran di Samarinda. Berikut ini adalah beberapa berita yang yang menyangkut soal kebakaran selama awal Februari 2010 di Kota Samarinda yang diambil dari berbagai sumber.

Kebakaran Landa Jelawat
Rabu, 3 Februari 2009 pukul 23.30 wita
Samarinda. Jelang tengah malam, warga yang bermukim di Jl. Jelawat, Samarinda Ilir dan sekitarnya dikejutkan dengan kobaran api itu yang tampak dari atas bukit. Rupanya, kebakaran sedang terjadi.

Sontak, kejadian itu membuat warga setempat, khususnya yang bermukim di Gang 9 jadi kalang kabut. Maklum, mereka khawatir, api akan terus membesar. Sementara daerah itu adalah kawasan padat penduduk dengan rumah yang rata-rata terbuat dari kayu.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 23.30 wita. Sekitar satu jam api berkobar dan menghanguskan 6 rumah bangsalan. Belum diketahui pasti penyebab sari musibah kebakaran tersebut. Namun, dari keterangan sejumlah warga di sekitar lokasi kejadian, api muncul dari belakang rumah warga bernama Pardi (30).

Sejumlah rumah yang hangus terbakar letaknya berada di lereng gunung dan menanjak. Sehingga Pasukan Mencegah Kebakaran (PMK) dan armadanya tiba di lokasi kejadian, menghadapi kendala untuk segera melakukan pemadaman.

Melihat petugas pemadaman yang sulit menjangkau titk api, puluhan warga setempat berinisiatif melakukan pemadaman berbekal peralatan seadanya. Warga sibuk mengambil air di beberapa sumur dengan menggunakan ember, kaleng bekas, dan panic untuk menyiram api yang terus membesar. Namun, lebih setengah jam berlalu, baru petugas PMK berhasil mendekati titik api dan melakukan upaya pemadaman.

Dalam musibah tersebut, Pardi yang juga pemilik rumah asal api, mengalami cedera. Kedua kaki korban terjilat api dan melepuh. Namun, Pardi berhasil lolos dari maut dan keluar dari rumahnya yang kini jadi arang. Sementara itu kepolisian Polsek Samarinda Ilir sejauh ini masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kebakaran tersebut.

Cendana Membara, 35 Rumah dan 2 Ruang Kelas Hangus
Jumat, 5 Februari 2010 pukul 09.30 wita
Samarinda. Kebakaran hebat kembali melanda Kota Tepian. Kali ini, sedikitnya 35 rumah yang terletak di Jl Cendana, Gang 15 RT 34 dan RT 35, Teluk Lerong Ulu, Sungai Kunjang, ludes dilalap api. Kebakaran yang terjadi pukul 09.30 Wita itu, juga menghanguskan dua sekolah. Yakni SD Negeri 007 dan SMP Negeri 40.
Tak ada korban jiwa dalam musibah itu. Meski demikian, warga terlihat sangat panik menyelamatkan harta bendanya. Bahkan, ratusan pelajar yang tengah menuntut ilmu, ketakutan dan berhamburan keluar kelas agar tak jadi korban.

Sejauh ini belum diketahui pasti, apa penyebab kebakaran yang membuat 60 kepala keluarga (KK) dan ratusan jiwa itu, harus kehilangan tempat berteduh itu. Tapi dapat dipastikan kerugian yang ditimbulkan mencapai ratusan juta rupiah.

Informasi yang dihimpun di tempat kejadian, asap hitam dan kobaran api pertama kali terlihat dari lantai dua rumah seorang warga bernama Suriadi. Saat kejadian, rumah itu kosong sejak pagi. Istri Suriadi bernama Evi Asnani (35), sedang mambawa seorang anaknya berobat ke puskesmas. Sementara Suriadi yang berkerja sebagai petugas kebersihan Islamic Centre, sedang berada di masjid terbesar di Kaltim tersebut.

"Saat istri saya (Evi, Red) pulang dari membawa anak saya berobat, katanya asap hitam dan api sudah membesar dari lantai dua. Sedangkan saya sedang menyapu halaman masjid dan tahu terjadi kebekaran dari salah seorang tetangga," kata Suariadi.
Ketika Suriadi tiba, api sudah membakar rumah berukuran sekitar 4 x 6 meter miliknya itu. "Saya tidak bisa masuk untuk mengeluarkan dan menyelamatkan barang berharga. Karena saat saya tiba saja api sudah terlanjur besar," kata Suriadi lagi.

Sesaat kemudian, tiupan angin kencang dan teriknya matahari membuat api terus membesar. Api lalu merembet ke bangunan lain yang berada di samping dan depan rumah Suriadi yang umumnya terbuat dari kayu.
Kebakaran membuat warga sangat panik. Masing-masing warga sibuk mengeluarkan dan menyelamatkan barang berharga. Termasuk menyelamatkan sanak saudara. Kejadian itu lalu dilaporkan ke kantor polisi dan pasukan pemadam kebakaran.

Sementara menunggu pemadam kebakaran tiba, warga berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya. Mereka menggunakan ember dan tempat yang bisa digunakan untuk menampung air, untuk mengangkut dan menyiramkannya ke kobaran api.

Sayang usaha warga tak membuahkan hasil, api malah kian membesar. Tak berselang lama kemudian raungan sirene mobil pemadam kebakaran bersahut-sahutan tiba di pemukiman padat penduduk itu. Dibantu warga, petugas pemadam kebakaran bahu membahu menyiramkan api untuk melakukan pemadaman. Kerja keras petugas untuk memadamkan api baru berhasil sekitar dua jam kemudian.

Kebakaran itu juga membuat sejumlah ruas jalan macet total. Mulai di sepanjang Jl Cendana, Jl Ulin, Jl Batuah, Jl MT Haryono, Jl Tengkawang, Jl P Antasari hingga Jl Slamet Riadi. Kemacetan tersebut terjadi sebagai imbas ditutupnya sejumlah ruas jalan akibat kebakaran di Jl Cendana. Ditambah pula, begitu banyak warga yang sebenarnya hanya penonton, mendatangi lokasi kejadian dengan menggunakan motor. Setelah dekat, motor diparkir begitu saja di tepi jalan sehingga memakan badan jalan.

"Menurut keterangan beberapa saksi diduga kuat api berasal dari rumah seorang warga berinisial Sr (Suriadi). untuk memastikannya kepolisian sedang memeriksa dua orang saksi, termasuk Sr.

Selang 3 hari, Cendana Membara Lagi
Senin, 8 Februari 2010 pukul 13.00 wita
Samarinda. Hanya berselang 3 hari, si jago merah kembali melalap pemukiman warga di Jl Cendana, Sungai Kunjang. Jumat (5/2) pagi lalu, 35 rumah dan 2 sekolah di Gang 15 RT 34 dan 35, ludes diamuk api. Nah kemarin siang, peristiwa serupa menimpa rumah warga di Gang 6 dan Gang 8 RT 8 kelurahan Karang Anyar.
Kebakaran yang terjadi pukul 13.00 Wita itu, menghanguskan 25 rumah. Akibatnya, 30 kepala keluarga (KK) yang diperkirakan setara dengan 90 jiwa, terpaksa kehilangan tempat tinggal. Sejauh ini belum diketahui pasti penyebab kebakaran itu.
Keterangan yang dihimpun di tempat kejadian, sejumlah warga sekitar menyebut, api berasal dari rumah milik Fadli. Saat kejadian, di rumah itu hanya ada seorang kerabat Fadli yang namanya tak diketahui pasti. Sedangkan Fadli dan istrinya bernama Wahyu sedang tak ada.
Informasinya, Fadli sedang berkerja ke laut dan Wahyu berangkat ke Jakarta sejak beberapa hari sebelumnya. Menurut penuturan Ketua RT 08 bernama Arpus, dia melihat asap hitam disertai kobaran api terlihat pertama kali dari bagian dapur rumah bernomor 19 tersebut.

"Saat itu saya sedang berada di rumah. Tiba-tiba saya mendengar teriakan api... api... Ketika saya keluar rumah, ternyata api sudah mulai membesar dari dapur rumah Pak Fadli," ujar Arpus yang tinggal sekitar 40 meter dari api pertama kali diketahui berkobar.

Sejumlah warga lain yang mengetahui kejadian itupun menjadi kalang kabut untuk menyelamatkan barang mereka masing-masing. Arpus lalu menghubungi satuan pemadam kebakaran dan kantor polisi melaporkan peristiwa itu.

Sementara menunggu pemadam kebakaran tiba, warga berupaya menghambat dan memadamkan api dengan menggunakan peralatan seadanya. Warga mengambil ember maupun wadah yang bisa digunakan untuk menampung dan menyiramkan air ke kobaran api.
Teriknya sengatan matahari dan tiupan angin kencang membuat usaha warga seakan sia-sia. Api dengan cepat membesar dan merembet ke bangunan lain di sekitarnya, yang umumnya terbuat dari kayu itu.

Api yang mulanya hanya membakar rumah warga di samping rumah Fadli yang terletak di Gang 6, berlanjut sampai ke rumah warga lain di kawasan Gang 8. Tak berselang lama kemudian, beberapa unit mobil pemadam kebakaran tiba.
Dengan dibantu warga, puluhan petugas pemadam kebakaran pun bahu-membahu menyemprotkan air.

Sekitar satu jam kemudian barulah usaha pemadaman api membuahkan hasil. Api berhasil dijinakkan, sebelum merembet lebih jauh lagi ke bangunan lain di sekitarnya. Dan seperti biasa, peristiwa itu juga membuat arus lalu lintas di Jl Cendana dan sekitarnya padat merayap.
Kebakaran tersebut juga nyaris memakan korban jiwa. Adalah Sumartini (40) dan Sufiah (33) yang menderita luka bakar. Surfiah terjilat api saat menyelamatkan ibu dan anaknya yang sedang berada di dalam rumah.

Sebelum kejadian tersebut, Sufiah berada di rumahnya yang lain di Jl M Said Gang 2. Ia mendapat informasi kebakaran dari tetangganya. "Waktu berlari masuk rumah, saya tidak memperhatikan api. Baju saya sampai terbakar. Untung warga cepat bantu memadamkan api," ungkap Sufiah saat ditemui di RS Dirgahayu.
Sedangkan Sumartini didampingi beberapa keluarganya di RS Dirgahayu, tidak ingin memberikan keterangan atas kejadian yang menimpa dirinya. Namun Sumartini mengalami luka bakar yang cukup serius di bagian wajah dan tangan.

Kapoltabes Samarinda Kombes Pol Drs M Arkan Hamzah, melalui Kapolsekta Sungai Kunjang AKP Eko Suroso SIK, didampingi Kanit Reskrim Ipda Tribuana Yudha yang ditemui di tempat kejadian, belum berani memastikan penyebab api.

"Kami masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan informasi terkait kebakaran ini. Keterangan dari sejumlah warga memang api diduga berasal dari rumah di Gang 6 milik Fd (Fadli, Red)," ujar Tribuana.

Kantor PU Kaltim Nyaris Terbakar, Api Sempat Jilat Dinding Mushala

Selasa, 9 Februari 2010 pukul 00.30 wita
Samarinda. Bangunan kantor Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kaltim, di Jl MT Hariyono, Sungai Kunjang, nyaris terbakar.
Gara-garanya, tumpukan sampah bekas dan tandon air usang yang terbuat dari plastik, terbakar, Selasa (9/2) sekitar pukul 00.30 dini hari kemarin.

Terang saja kepulan asap hitam disertai kobaran api yang cukup besar membuat warga sekitar menjadi panik. Andai saja terlambat dipadamkan, dipastikan bakal kembali terjadi kebakaran. Bahkan kobaran api sempat menjilat dinding bangunan musala yang berada persis di dekat tumpukan sampah.

Kejadian itu bermula ketika beberapa orang warga sekitar mendengar teriakan minta tolong dari seorang penjaga kantor, yang tak diketahui pasti namanya.
Saat warga mendekat untuk memastikan, mereka melihat kepulan asap hitam dan api sedang berkobar hebat.

Kuatir kobaran api bakal menjalar ke bangunan lain di dekatnya, warga kemudian bekerja sama melakukan pemadaman dengan menggunakan air yang mereka ambil menggunakan ember.

Namun karena angin berhembus cukup kencang malam itu, api kian menjadi.
Warga lalu berinisiatif melapor ke kantor pemadam kebakaran untuk meminta bantuan menjinakkan api.

"Saat kami siram dengan air yang diambil pakai ember, api makin jadi. Bahkan api sempat menjilat tembok musala, yang ada persis di atas tumpukan sampah itu," ujar seorang warga yang mengaku bernama Ibrahim.

Melihat cahaya api yang memerah dari kejauhan ditambah kepulan asap hitam, membuat sejumlah warga sekitar lainnya beserta pengendara motor yang kebetulan melintas ikut mendatangi tempat kejadian.

Tak ayal upaya warga melakukan pemadaman api menjadi tontonan gratis oleh puluhan warga lain.
Untungnya sebelum api kian membesar, dua unit mobil pemadam kebakaran tiba. Dengan menyemprotkan selang berisi air, api pun berrhasil dijinakkan dengan mudahnya. Tumpukan fiber itu lalu dibongkar, agar api tak lagi membakarnya.

"Kami betul-betul dibuat kaget dengan kejadian ini. Belum lagi hilang rasa trauma atas kebakaran yang terjadi tadi siang dan beberapa hari lalu di Jl Cendana yang tak jauh dari sini, kami mendengar ada kebakaran lagi di sini (kantor cipta karya PU Kaltim, Red). Tapi syukurnya ternyata di sini hanya tumpukan sampah yang terbakar," ucap Ibrahim lagi.

Kapoltabes Samarinda Kombes Pol M Arkan Hamzah, melalui Kapolsekta Sungai Kunjang AKP Eko Suroso SIK yang dikonfirmasi mengaku memang ada mendapat laporan nyaris terjadi kebakaran di kantor PU Kaltim tersebut, dari anggotanya yang lain.
"Saat kami cek ternyata hanya tumpukan sampah yang terbakar. Kami belum mengetahui apakah tumpukan sampah itu memang sengaja dibakar atau tidak. Sementara kami masih menghimpun informasi," ujar Eko singkat.

Rumah Penjaga Sekolah Dilalap Api

Rabu, 10 Februari 2010 pukul 11.00 wita
Samarinda. Untuk kelima dalam awal bulan Februari terakhir, kebakaran terjadi di Kota Tepian. Tapi untungnya, kebakaran kali ini hanya menghanguskan sebuah rumah di lantai tiga di Jl. MT Haryono RT 9, Air Putih, Samarinda Ulu, Rabu (10/2) sekitar pukul 11.00 wita.
Tak ada korban jiwa dalam musibah kebakaran ini. Diyakini, penyebab kebakaran akibat korsleting atau hubungan arus pendek listrik. Pemilik rumah tersebut adalah seorang penjaga sekolah salah satu SD Negeri di kawasan Air Putih, bernama Sakrani.

Saat kejadian, Sakrani dan istrinya yang namanya tak diketahui pasti, sedang tidak berada di rumah. Di rumah bercat hijau itu, hanya ada Lepi dan seorang warga lain yang dating bertamu, bernama Suratman. Lepi adalah seorang penyewa, yang menjadikan lantai tiga rumah Sakrani sebagai tempat tinggalnya.

“Saat kejadian say sedang mengobrol dengan seorang tamu (Suratman, red) dan duduk di ruang tengah lantai tiga rumah yang saya sewa, “ kata Lepi.
Saat itulah Lepi dan Suratman mencium bau hangus yang sangat menyengat. Penasaran, Lepi dan Suratman pun mencari asal bau hangus yang belakangan kian menyengat disertai asap hitam. “Saat saya sedang mencari asal bau hangus, kami mendengat teriakan ‘api… api…’ dari salah seorang warga sekitar,” ujar Suratman menimpali.
Bersamaan dengan itu, Suratman melihat api sudah berkobar membakar dinding rumah. Suratman dan Lepi pun berlari keluar sambil membawa sejumlah barang berharga untuk menyelamatkan diri. “Ketika keluar rumah, saya melihat kobaran asap hitam dan api muncul dari bagian belakang di lantai dua rumah,” ujar tetangga Sakrani, mengaku bernama Isah.

Warga lainnya pun berdatangan untuk membantu memadamkan api. Kejadian itu lalu dilaporkan ke kantor polisi dan satuan pemadam kebakaran yang berada tak jauh dari tempat kejadian. Tak berapa lama, beberapa unit mobil pemadam kebakaran tiba dan langsung menyemprotkan air ke arah kobaran api. Sekitar 10 menit berselang, api pun berhasil dijinakkan.

Kemudian, Lepi dan Suratman pun dibawa pihak kepolisian Polsek Samarinda Ulu untuk dimintai keterangan. Berdasarkan keterangan mereka, saat itu mereka sedang mengobrol di ruang tengah lantai tiga rumah. Api lalu tiba-tiba membesar. Kuat dugaan kebakaran kali ini akibat korsleting listrik.

Dari berbagai sumber dengan perubahan seperlunya
Foto-foto : Tribun Kaltim, Sapos, FotoDeka, Flickr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian