Dua Belas Rabiul Awal

Seri Islam

Ketika berada di Suriah, Presiden Soekarno diajak oleh Presiden Suriah saat itu, Syukri al-Quwatli ke makam Salahuddin al-Ayyubi atau lebih dikenal “Sultan Saladin”. Setelah sampai, Soekarno ditanya oleh al-Kuwatly, “Apakah Bapak tahu siapa yang dikubur di sini?”
“Tentu, Saya tahu. Ini dalah makam Salahuddin, Pejuang Besar,” jawab Soekarno.
“Tetapi, ada satu jas Salahuddin yang barangkali Bapak belum mengetahuinya,” tanya al-Kuwatly lagi.
“Apa itu?” jawab Soekarno penuh penasaran.
“Salahuddin telah mengobarkan api semangat Islam dengan cara memerintahkan kepada umat Islam supaya setiap tahun diadakan perayaan Maulid Nabi,” terang al-Kuwatly.
Ternyata, strategi Sultan Saladin tersebut berhasil membangkitkan umat Islam yang sedang loyo setelah Kota Yerusalem dan Masjid al-Aqsa direbut oleh Pasukan Salib. Beliau berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriyah) Kota Yerusalem dan Masjid al-Aqsa bisa direbut kembali.

Tradisi Maulid Nabi, sebenarnya, bukan murni gagasan Sultan Saladin, tapi merupakan gagasan dari iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, seorang atabeg (sejenis bupati) di Irbil, Suriah Utara. Tujuannya, untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani. Hanya saja, saat itu, perayaan Maulid masih bersifat lokal alias di dalam istana saja dan tidak diselenggarakan setiap tahun.

Sultan Saladin ingin agar Maulid tidak hanya diselenggarakan di istana saja, tapi juga oleh seluruh umat Islam di dunia dan dirayakan setiap tahun. Mulanya, gagasan Sultan Saladin itu ditentang oleh sekelompok ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Namun, Sultan Slaadin berasumsi bahwa perayaan Maulid ini hanya untuk syiar Islam, bukan perayaan yang bersifat ritual yang bisa dianggap bid’ah.

Sultan Saladin kemudian menemui Khalifah an-Nashir di Baghdad untuk minta persetujuan atas desakan Maulid ini dan beliau menyetujuinya. Maka pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Sultan Saladin sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jamaah haji, agar jika kembali ke kampung halamannya segera menyosialisasikan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriyah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi. Pada perayaan Maulid Nabi pertama yang diselenggarakan Sultan Saladin pada 580 H., diadakan sayembara penulisan riwayat Nabi dan puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang oleh Sultan Saladin untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dalam perlombaan itu, yang keluar sebagai juaranya adalah Syaikh Ja’far al-Barzanzi bin Husin bin Abdul Karim (1690-1766 M), dengan karyanya ‘Iqd al-Jawahir (Kalung Permata).

Karya ini di kemudian hari lebih dikenal dengan Kitab al-Barzanji, diambil dari nama pengarangnya. Hingga kini, kitab ini masih populer di telinga kita dan digunakan di mana saja, terutama di pesantren-pesantren tradisional.

Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi, acapkali dirayakan dalam bentuk dan tujuan yang berbeda-beda. Pada masa Wali Songo misalnya, tradisi ini digunakan untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Karena itu, Maulid Nabi seringkali disebut dengan Perayaan Syahadatain. Orang-orang Jawa (seperti di Cirebon, Yogyakarta, Surakarta) menyebutnya dengan Sekaten, karena lidah mereka saat itu masih cadel untuk mengucapkan lafaz Arab.

Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata gerebeg artinya “mengikuti”, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya.

Di Banten, ketika Maulid Nabi tiba orang-orang biasanya beramai-ramai mendatangi komplek Masjid Agung Banten. Sebagian di antara mereka ada yang berendam di kolam masjid itu untuk mendapatkan berkah. Bahkan, ada di antara mereka yang sengaja mengambil air kolam tersebut untuk dibawa pulang sebagai obat. Selain pergi ke masjid, ada juga di antara mereka yang menziarahi makam para sultan, seperti Sultan Hasanuddin, secara bergiliran.

Di Cirebon, untuk menyambut Maulid Nabi orang-orang biasanya banyak yang meziarahi makam Sunan Gunung Jati. Di keraton Kasepuhan, biasanya diselenggarakan upacara Panjang Jimat, yakni memandikan pusaka-pusaka keraton peninggalan Sunan Gunung Jati. Banyak orang berebut untuk memperoleh air bekas cucian tersebut, karena dipercaya akan membawa keberuntungan.

Di sinilah letak kekeliruan dari perayaan Maulid Nabi. Kini, sudah banyak orang yang melenceng dari hakekat diadakannya Maulid Nabi. Apa yang terjadi dalam tradisi Panjang Jimat misalnya, tersurat aksi-aksi mistis yang berpotensi melanggar syari’ah. Tapi, begitulah jika tradisi Maulid Nabi telah dicampur-adukkan dengan budaya lokal, maka unsur irasional (tidak masuk akal) berpotensi akan selalu ada.

Bagi kita, mestinya, Maulid Nabi bisa dijadikan sebagai refleksi profetik (kenabian) atas perjalanan hidup Nabi buat umat Islam dan umat manusia di seluruh dunia. Beliau telah berhasil mencitrakan dirinya sebagai sosok yang berbudi pekerti mulia, pekerja keras, dan pemimpin yang sangat baik. Sifat-sifat baik Nabi inilah yang mesti kita resapi dalam setiap perayaan Maulid Nabi untuk kemudian dicontohkan dalam kehidupan kita sehari-hari, bukan malah ngalap berkah dari benda-benda keramat.

Sebagaimana dikutip dari majalah Hidayah edisi 44 – Maret 2005.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui