Nasib Sungai-sungai di Samarinda

Perempuan tua bernama Azizah itu tak ragu menciduk air sungai dan menyiram ke sekujur tubuhnya. Walaupun air terlihat berwarna hitam, Azizah yang berbalut kain sarung tetap riang. Di sebelahnya juga ada beberapa perempuan dan anak-anak melakukan aktivitas serupa.

Pemandangan seperti ini masih ditemui warga Kota Samarinda tiap pagi dan sore. Terutama di kawasan dekat Jalan Perniagaan Pasar Segiri Samarinda Ulu sampai belakang Jalan Dr Soetomo. Ada sekitar 250 ribu warga atau hampir separuh penduduk di kota itu yang tinggal di sisi kiri dan kanannya.

Warga bantaran Sungai Karang Mumus (SKM), sebagian masih memanfaatkan air sungai itu untuk kehidupan sehari-hari. Sebutannya; MCK alias mandi, cuci dan kakus. Bedanya, kalau dulu sekitar tahun 1970-an pemandangan seperti itu terasa ‘menyegarkan’, sekarang justru menjadi memprihatinkan.

Orang-orang lama bercerita tentang kondisi SKM tahun 70-an, yakni suatu masa ketika pandangan mata masih bisa menembus dasar sungai yang jernih. Anak-anak berjumpalitan sambil berenang menyeberang dan perahu yang berseliweran. Anak-anak muda seperti tidak sabar menunggu datangnya pagi dan sore, yakni saat-saat warga turun ke batang (sebutan untuk area dermaga warga) untuk mandi.

Dulu, warga masih menggunakan air untuk minum dan memasak. Tapi saat ini hanya untuk MCK saja. Bahkan di musim kemarau, warga tak berani lagi memakainya untuk mandi karena biasanya air sudah berbau menyengat.
Azizah dan juga warga yang tinggal di sekitar SKM menyadari, kualitas air sungai sudah tidak seperti era 70 atau 80-an. Dari warnanya yang terlihat hitam saja batinnya berontak untuk menggunakannya.

Tapi apa boleh buat, ia harus berhemat untuk melanjutkan kehidupan sulit yang menjepitnya. Untuk satu drum air bersih ia harus membelinya Rp5.000. Sementara kebutuhan air bersih untuk keluarganya setidaknya dua drum per hari. Itu berarti setidaknya Rp300 ribu harus disisihkannya tiap bulan.
Di sungai itu pula Azizah dan juga sebagian warga menunaikan prosesi “buang hajat” alias limbah perut tubuhnya. Bayangkan, berapa banyak tinja yang masuk ke sungai yang panjangnya sekitar 20 kilometer itu (dari muara sampai waduk Benanga) tiap hari. Dan berapa banyak pula kalau satu bulan? Satu tahun?

Tak hanya Azizah yang membuang limbah pribadi ke sungai. Tapi berbagai jenis usaha lain juga beraktivitas serupa. Sebutlah perbengkelan, pembuatan makanan tahu dan tempe, pertokoan dan banyak lagi. Semua serba bebas, seakan-akan tak peraturan yang melarang.
---
Kisah di atas hanyalah sepetik dari nasib Sungai Karang Mumus yang sedang kritis, belum lagi sungai-sungai kecil di Samarinda.

Secara topografis, Samarinda memiliki kontur yang berbukit-bukit dan hanya berdataran rendah di wilayah pinggir sungai. Jadi, wilayah Samarinda berupa sungai sekitar 3,5%. Wilayah berdataran rendah di wilayah pinggir sungai itulah yang merupakan kawasan padat penduduknya. Seharusnya, kawasan pinggir sungai adalah kawasan hijau, bukan untuk pemukiman penduduk.
Hampir semua sungai-sungai kecil di Samarinda tepi sungainya adalah pemukiman penduduk. Hal ini juga berpengaruh terhadap kualitas air dan sungai itu sendiri. Kebanyakan warga tidak sadar akan dampak dari membuang limbah sembarangan ke sungai.
Berikut adalah beberapa sungai-sungai kecil yang berhasil diabadikan oleh saya di beberapa wilayah di Samarinda dan sebagai tambahan, di Loa Janan dan Loa Kulu.


Sungai ini melintasi kawasan Loa Janan, Samarinda dan Loa Janan, Kutai Kartanegara sehingga bernama Sungai Loa Janan. Jika Anda pergi ke Tenggarong lewat jalur selatan, maka pasti akan melihat muara sungai ini. Sungai ini bermuara di Mahakam dan bercabang dua. Sungai cabang pertama berujung di kawasan pemukiman KM 2, Tani Aman dan sungai cabang kedua berujung di kawasan Perumahan Loa Janan Indah. Hulu sungai Loa Janan saat ini kritis karena pada kawasan hulunya sedang digiatkan pembangunan perumahan. Selain itu juga, pada beberapa kawasan pinggir sungai, lebar sungai menjadi setengahnya dari semula akibat pemukiman padat yang mengambil alur sungai.


Sebuah sungai di kelurahan Loa Bakung, kecamatan Sungai Kunjang. Bentuknya seperti parit, padahal sebetulnya sebuah sungai. Sungai ini terancam hilang dari pemetaan kota Samarinda karena tertutup oleh bangunan-bangunan kayu rumah penduduk. Selain itu, bangunan-bangunan kayu rumah penduduk menghambat alur aliran sungai.


Sungai ini bernama Sungai Karang Asam. Bermuara di samping kantor Polantas Tepian dan berhulu di Lok Bahu dalam. Sungai ini juga mengalami degradasi dari sisi kualitas karena pertumbuhan penduduk yang membuat pembangunan rumah-rumah kayu di pinggir sungai. Kondisi paling memprihatinkan terlihat di sekitar pasar Kedondong karena terjadi penyempitan lebar sungai akibat rumah-rumah kumuh.


Sungai ini merupakan anak sungai dari Sungai Karang Asam. Sungai yang melintasi Lok Bahu juga nasibnya sama, menyempit akibat rumah-rumah kumuh penduduk. Tak heran, saat hujan lebat, sungai ini meluap.


Sebuah sungai yang melintasi kelurahan Rawa Makmur dan Handil Bakti, kecamatan Palaran. Sungai ini nasibnya masih lebih baik karena belum tercemar terlalu berat oleh limbah rumah tangga seperti yang terlihat pada foto di atas.


Sungai Sangasanga yang secara administratif memisahkan antara Kota Samarinda dan kecamatan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara. Sungai ini pun di tepinya dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk. Namun, tidak ada yang berani mandi di sungai ini karena ada penunggunya, yakni buaya.


Anak sungai Karang Mumus ini melintasi kelurahan Gunung Lingai, kecamatan Sungai Pinang. Hasil pantauan di lapangan Januari 2011, sungai ini bisa dibilang bersih dari sampah.

Komentar

  1. keren yah.


    Jagan lupa kunjungin --.>> http://www.zoom89.co.cc

    Follow yah

    see u

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui