Menuju Banua: Ironi Banua Agung

Amuntai, 20 Juli 2011.
Siang itu, aku masih berada di Amuntai. Waktu menunjukkan pukul 14.46 WITA. Saat ku melintasi Jembatan Paliwara, yang di bawahnya terdapat Sungai Negara, ku melihat dua orang tua (diduga suami isteri) berjalan tertatih-tatih di trotoar jembatan. Ku hentikan sejenak motorku untuk melihat mereka. Setelah berjalan beberapa lama, mereka berhenti di tengah trotoar jembatan. Kemudian, mereka duduk bersila dan menengadahkan tangan, mengharap belas kasih dari orang lain. Aku mulai mendekat kepada mereka, sambil ku potret terus. Aku hanya mengamati saja dari samping apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika ku memotret orang tua itu, ada beberapa pengguna jalan yang memberikan uang kepada mereka. Mungkin, pengguna jalan itu mengira ku seorang wartawan karena aku terus memotret orang tua itu.

Pikiran yang terlintas dalam benakku saat itu, hanyalah miris dan ironis. Miris, karena orang setua itu masih saja berada di jalan raya yang ramai. Ke mana anak-anaknya?

Ironis, karena lokasi tempat mereka meminta-minta (diduga setiap hari) tak jauh dari kantor bupati dan gedung DPRD Hulu Sungai Utara. Seharusnya, pemerintah dan wakil rakyat mesti peka terhadap lingkungan sekitarnya, termasuk orang tua itu. Selain itu, di mana peran zakat, infak, dan sedekah di “Banua Agung” yang dikenal mayoritas Islam dan masyarakatnya taat menjalankan agama? Andaikan orang-orang mampu se-kota Amuntai menyisihkan seribu rupiah, Insya Allah orang tua itu (dan warga miskin Hulu Sungai Utara) takkan menengadahkan tangan lagi di pinggir jalan. Hanya memberi kesan buruk kota Amuntai sebagai kota agamis, namun banyak pemeluknya yang enggan bersedekah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian