Susahnya Jalan Kaki di Samarinda

Beberapa waktu belakangan, saya menggiatkan dan mengusahakan diri untuk berjalan kaki setiap minggu dengan alasan kebugaran dan kesehatan (di samping juga menurunkan berat badan :D). Dari situ pula saya terinspirasi untuk menurunkan suatu tulisan mengenai aktivitas berjalan yang memakai kaki.

Ya, jalan kaki, adalah sebuah aktivitas alami yang menyehatkan dan merupakan jenis olahraga pertama yang dilakukan manusia, baik disadari maupun tidak. Selain sehat, berjalan kaki banyak dipilih orang yang ingin menuju ke tempat tujuan dengan jarak dekat. Di negara Barat, semisal di benua Eropa, fasilitas umum untuk mendukung aktivitas ini sangat baik sekali, bahkan untuk kalangan difabel (penyandang cacat) pun dibuat nyaman. Jika kalangan difabel saja nyaman, bagaimana dengan manusia yang tak memiliki kekurangan fisik berarti?

Di negara Indonesia, hmmmm, jangan ditanya. Di Indonesia, berjalan kaki dengan nyaman di kota besar, semisal Jakarta, merupakan hal yang istimewa. Faktanya, jalan-jalan di Jakarta memang lebih berpihak kepada para pengendara mobil yang ditempatkan di kasta tertinggi. Pengendara sepeda motor di posisi kedua.

Hal itu nyata terlihat di kondisi jalur yang tersedia di ibukota Jakarta. Mobil dengan jalur yang begitu lebar, sementara bagi pejalan kaki jalurnya sempit bahkan sering tidak tersedia. Akhirnya kasus seperti itu mau tidak mau memaksa pejalan kaki berjalan di jalan yang sama dengan kendaraan bermotor, tentu dengan risiko kecelakaan cukup tinggi. Kota berpenduduk 9,5 juta ini lebih mengarahkan kebijakannya pada jalan raya. Akibatnya, pejalan kaki semakin tergusur. Tetapi, saya tak akan membahas bagaimana susahnya jalan kaki di Jakarta (selain karena sudah banyak yang membahasnya, saya pun bukan warga sana, berkunjung pun baru sekali). Pada tulisan kali ini saya ingin sedikit membuat spesifikasi area bahasan, yakni di Kota Samarinda, ibu kota provinsi Kalimantan Timur sekaligus kota terpadat di Pulau Kalimantan dan juga merupakan kawasan perdagangan penting di Indonesia bagian Tengah.

Jika Jakarta saja kondisi jalur pedestriannya seperti itu, apalagi daerah seperti Samarinda. Jalan kaki bukan merupakan kebiasaan yang mendarah daging karena kontur geografi Samarinda yang berbukit-bukit dan terdapat sungai Mahakam yang lebar sehingga budaya masyarakat sebelum zaman modern adalah budaya sungai.

Tidak adanya tempat yang aman dan nyaman membuat banyak warga enggan berjalan kaki. Mereka lebih senang menggunakan kendaraan pribadi yang bisa mengantarkan dari pintu ke pintu, atau menumpang kendaraan umum kendati kualitas kendaraan umum minim.

Lahan yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki banyak dipakai oleh pedagang kaki lima (PKL) atau tukang tambal ban. Di sejumlah perempatan, trotoar dijadikan tempat parkir sepeda motor para pengojek. Bahkan, sejumlah bangunan didirikan di atas trotoar, mulai dari pos pengojek hingga pos satpam. Pejalan kaki juga harus pintar-pintar mencari celah bila jalur pedestrian sudah dipakai tempat menanam tiang spanduk, baliho, panel listrik, pot besar, dan rambu lalu lintas.

Bisa saya bilang, nyaris tidak ada trotoar di Samarinda yang nyaman digunakan untuk berjalan kaki.


Trotoar yang berada di depan Islamic Center ini rusak akibat galian kabel
serat optik perusahaan telekomunikasi. (ezg)


Trotoar di Jalan Bung Tomo, Sei Keledang, sudah hancur lebur akibat pembangunan
rumah-rumah di depannya dan juga galian kabel serat optik. (ezg)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui