Kedisiplinan Berkendara di Samarinda

Di lokasi inilah kemalangan menimpaku. (ezg)
Jumat sore, 6 April 2012. Ketika ku melintasi jalan rusak di Jalan K.H. Harun Nafsi, Rapak Dalam, tiba-tiba ada sebuah motor berhenti tiba-tiba di tengah. Aku kaget, dan hampir tak sempat menghindar ketika sepeda motor di depanku berhenti tiba-tiba. Untungnya aku tak sampai jatuh karena dengan sigap aku menopang diriku dengan kaki kiriku sehingga badan dan motorku tak sampai jatuh ke aspal. Hanya saja, kakiku terasa sakit karena menghempas badan sepeda motor tersebut. Ku mengerang kesakitan, si pengendara motor malah terlihat santai ketika menanyakanku kenapa, sambil sesekali menengok makanan yang dibelinya yang jatuh ke aspal sehingga membuatnya berhenti sembarangan. Aku marah-marah, namun sejenak aku suruh dia pergi saja karena aku tak bisa terlalu marah. Selepas itu, di tengah jalan aku baru sadar kalau kakiku terluka, ku pikir hanya keseleo saja. Argghh, sakitnya sampai ke ubun-ubun. Malamnya aku ke tukang urut yang jaraknya cukup jauh dari rumahku, 5 km, karena tidak ada tukang urut yang tokcer di kawasan tempat ku tinggal. Sesampai di sana, hanya diurut sebentar dan diberi semacam obat yang diselipkan di daging buah pisang. Langsung saja ku telan. Katanya, sih, akan menghentikan pembekuan darah yang berlebihan di kaki. Esoknya, kakiku masih saja sakit keseleo, dan akhirnya hanya diberi ramuan tradisional buah pala dan kunyit yang dihaluskan lalu ditempelkan ke kakiku yang sakit. Sampai tulisan ini ku turunkan ke blog, kakiku masih agak sakit untuk dibawa berjalan normal.


***
Kisah di atas mungkin mirip dengan kejadian yang Anda alami ketika berkendara, sebagai warga Samarinda atau pun Anda warga daerah lain. Kesadaran untuk berdisiplin berkendara oleh warga (khususnya di Kota Samarinda) bisa dibilang masih rendah, terlebih lagi di kawasan pinggiran kota, seperti yang saya alami di kawasan Rapak Dalam pada sepetik kisah di atas. Di media cetak pun, seolah tak ada habis-habisnya dan tak ada bosan-bosannya mengupas mengenai perilaku warga Samarinda yang tidak tertib berkendara pada kawasan lalu lintas.

Ketidakdisiplinan warga kota dalam berlalu lintas sangat gampang kita dapatkan, baik di kawasan dalam kota maupun di pinggiran kota, seperti bermain telepon genggam, tak memakai helm, dan banyak lagi. Sepengetahuan penulis, ABG (anak baru gede)-lah yang paling banyak melanggar kedisiplinan berkendara di lalu lintas, seperti dua cewek yang tak memakai helm, sambil memainkan BB-nya (bukan memainkan bau badannya, lho) seliweran di jalan komplek atau di gang, bahkan dengan beraninya di jalan ramai. Terkadang, penulis juga melanggar kedisiplinan (yang sampai tulisan ini dimuat, masih dilakukan), yakni hanya memakai satu kaca spion. Mengapa? Maklum, alasan finansial membuat penulis tak bisa membeli sepasang kaca spion. Kalau ada yang mau menyumbang dana atau sepasang kaca spion baru, saya buka peluang lebar-lebar untuk bersedekah kepada saya. :D

Tidakkah mereka (termasuk Anda) berpikir bahwa konsekuensi yang akan mereka tanggung ketika mereka tidak disiplin berlalu lintas? Mulai dari hal terkecil, seperti kena tilang polisi. Soal tilang berikut ini, mungkin buat Anda yang (merasa) berpikiran sempit untuk memberikan uang damai kepada pak polisi, berarti Anda telah mendukung upaya mempertahankan gelar Negara terkorup se-Asia Tenggara bagi Indonesia. Selamat, ya! Hal terbesar dari konsekuensi tidak disiplin berlalu lintas ini adalah Anda akan semakin rawan untuk terlibat dalam musibah kecelakaan, dan nyawa akan melayang. (Lagi-lagi), soal konsekuensi terbesar berikut ini, mungkin buat Anda yang (merasa) berpikiran sempit kalau Anda punya cadangan nyawa, maka perlu saya tegaskan kalau nyawa kita cuma satu.

Jangan hanya karena terburu-buru, kedisiplinan dan keselamatan diabaikan. Lihat masyarakat Barat, ambillah sejumput budayanya yang bagus (jangan ambil banyak-banyak), yakni kedisiplinan mereka dalam berkendara dan berlalu lintas.

Kesimpulan

Dalam tulisan ini, saya tak akan memberikan solusi seperti yang ada di media cetak atau pihak panitia sosialisasi keselamatan berkendara di kepolisian, biarkan itu menjadi tugas mereka. Hanya satu kesimpulan yang bisa saya berikan, sudahkah Anda sadar untuk berdisiplin?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian