Nasib Jembatan di Indonesia

Jembatan Aizhai pada malam hari. (Photo by
Top Photo Corporation/Rex/Rex USA)
Akhir Maret 2012 lalu, tepatnya pada tanggal 31, sebuah jembatan tertinggi di dunia diresmikan di Republik Rakyat Cina, bernama Jembatan Aizhai. Jembatan ini memiliki rentang utama 1.146 m (3,760 kaki) dan tinggi dek 350 m (1,100 kaki), menjadikannya sebagai jembatan tertinggi keenam di dunia dan jembatan gantung terpanjang kedua belas di dunia. Dari 400 atau lebih jembatan tertinggi di dunia, tidak ada yang memiliki rentang utama sepanjang Aizhai.

Cina, sebagai negara besar di Asia, memang sedang giat-giatnya membangun megaproyek untuk menunjukkan kepada dunia tentang kebesarannya, yang memang sejak dulu kala sudah besar. Sebagai jembatan besar, Aizhai dikerjakan dengan sangat cepat bahkan mendahului jadwal penyelesaian yang semula direncanakan. Aizhai dibangun dari periode 2007 hingga 2011. Saya mulai maklum, mengapa Cina dapat membangun sebuah proyek dengan begitu cepat? Menurut saya, hal itu dipengaruhi oleh iklim politik dan keuangan di Negara tersebut. Cina, yang menganut paham komunis adalah negara yang sangat memerangi segala bentuk korupsi, sehingga dana proyek jembatan tersebut (mau pun jembatan lainnya) diawasi ketat hingga nyaris tak ada penyelewengan sehingga dana proyek mengalir ke pihak yang tepat. Selain itu, banyaknya pekerja yang menangani proyek jembatan juga membuat pekerjaan menjadi lebih cepat, dan tentunya menggunakan pekerja lokal, karena penduduk Cina terbesar di dunia.

Sejenak kita lupakan soal negara Cina, mari kita kembali ke Indonesia. Di Indonesia, bagaimanakah pembangunan jembatannya, baik jembatan kecil maupun jembatan besar?

Sebagaimana diketahui, jembatan terpanjang di Indonesia adalah jembatan Suramadu yang menghubungkan kota Surabaya dan pulau Madura, sepanjang lebih dari 5 km. Rencananya, 2014 mendatang akan dibangun jembatan Selat Sunda yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera dan akan menjadi jembatan terpanjang di Indonesia.

Sebelum tanggal 26 November 2011, bisa dibilang kondisi jembatan di Indonesia kebanyakan sangat memprihatinkan, entah itu karena kurang pengawasan, atau material jembatan yang sering dicuri, atau sering ditabrak tongkang (sering terjadi di Kalimantan dan Sumatera). Meski fakta tersebut terpampang jelas, namun belum menjadi perhatian yang serius bagi sebagian kalangan. Setelah peristiwa runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara di Tenggarong, Kalimantan Timur, semua mata tertuju kepada Tenggarong dan kemudian daerah-daerah lain sibuk memeriksa kondisi jembatan di wilayah mereka, sebagian atas kesadaran setelah musibah di Tenggarong, sebagian lagi setelah mendapat instruksi dari Kementerian Pekerjaan Umum. Ini menjadi bukti bahwa Indonesia, khususnya pemerintah, baru sadar untuk merawat aset-aset mereka, seperti jembatan, setelah terjadi sebuah musibah, semisal runtuhnya Jembatan Kukar.

Saya pernah menonton acara televisi Indonesiaku di Trans|7 yang menampilkan sebuah kecamatan terpencil bernama Wawonii di Sulawesi Tenggara, dan saya menangkap tayangan yang menguraikan sebuah jembatan roboh sejak tahun 2008 dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan diperbaiki.
Baru-baru ini juga, sebuah jembatan di Taniwel, Seram, Maluku, ambruk. Akibatnya beberapa desa di Taniwel terisolasi dan warga setempat terpaksa menyeberangi sungai yang arusnya cukup deras. Padahal, jembatan tersebut baru beberapa tahun setelah dibangun.
Nasib jembatan-jembatan di Indonesia, baik jembatan megah maupun jembatan kecil, ada yang baik dan ada juga yang tidak. Ketika satu jembatan baru diresmikan, satu jembatan lama roboh. Begitu pula seterusnya, seirama.

(Lagi-lagi) Korupsi
Aroma korupsi yang seolah sudah menjadi ‘budaya’ Indonesia, merasuk ke dalam proyek pembangunan jembatan. Demi meraup untung, dana yang sudah ditempatkan untuk membeli bahan bangunan tertentu, diganti dengan membeli bahan bangunan yang murah dan berkualitas rendah. Oknum yang terlibat biasanya mulai dari kontraktor hingga pihak pejabat yang berwenang (saking mengerikannya ‘budaya’ korupsi, saya sampai menggelontorkan kosa kata “biasa” pada kalimat di atas).

Bandingkan dengan di RRC, pemberantasan korupsi sangatlah tegas karena dinilai korupsi hanya akan menghambat kemajuan Cina sampai-sampai pelaku korupsi dihukum mati. Di Indonesia, usulan hukuman mati bagi koruptor masih menggantung. Ada yang berpendapat, usulan tersebut melanggar HAM. Namun, bukankah korupsi itu lebih melanggar HAM. Bayangkan, 1 koruptor bebas berkeliaran dari satu proyek jembatan ke proyek lainnya. Ancaman ketidakamanan jembatan sangatlah besar. Ketika yang satu runtuh, maka koruptor itu beralih ke proyek lain. Bukankah koruptor jelas-jelas lebih melanggar Hak Asasi Manusia untuk menikmati fasilitas jembatan yang layak? Namun, masyarakatlah yang menjadi korban, mulai dari terluka, hingga tewas. Satu nyawa koruptor tidak cukup untuk menggantikan puluhan nyawa yang melayang akibat jembatan runtuh karena dikorupsi. Apalagi, beberapa korban adalah tulang punggung keluarga. Otomatis, dampaknya akan domino kepada keluarga korban yang tidak mampu dan hanya mengandalkan satu tumpuan keluarga. Otomatisnya lagi, maka korban tak langsung dari jembatan akan bertambah.

Tak dapat dipungkiri, budaya korupsi 'diwariskan' oleh penjajah Belanda. Meskipun korupsi sempat merajalela pada masa Hindia Belanda, namun untuk soal pembangunan, Belanda sangat serius. Lihat saja jembatan yang dibangun sejak zaman Belanda, hingga saat ini masih berdiri kokoh, bandingkan dengan jembatan saat ini. Belum satu tahun, sudah ada yang retak.

Saya hanya bisa berdoa dalam hati, semoga tak ada jembatan runtuh lagi, korban dari kerakusan para koruptor.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian