Jakarta Dalam Sudut Pandangku

Pemandangan Jakarta yang ku lihat dari dalam bus Damri. (ezg)
Tepat setahun sebulan, pasca kepulanganku dari Jakarta, sebuah kota, provinsi, dan ibu kota Negara, yakni Indonesia. Ya, keberangkatanku ke Jakarta pada tanggal 4 Agustus 2011 hingga 7 Agustus 2011 meninggalkan kesan tersendiri bagiku, dan menjadi suatu pengalaman dalam hidup.

Pada awalnya, bisa dibilang faktor yang menyebabkan aku bisa pergi ke Jakarta adalah karena Wikipedia. Ya, di dunia maya aku cukup intensif berkecimpung di Wikipedia, tepatnya edisi bahasa Indonesia (http://id.wikipedia.org) dan juga bahasa Banjar (http://bjn.wikipedia.org). Sebuah organisasi nirlaba bernama Wikimedia Indonesia (selanjutnya disingkat WMID-kunjungi http://wikimedia.or.id untuk lebih jelas mengenai organisasi ini) mengundangku untuk berkenalan dan berbincang-bincang mengenai keterlibatanku di Wikipedia, baik sebagai pengguna, kontributor, atau pun sebagai pengurus/pambakal. Selama 4 hari 3 malam ku di sana, sebagai ‘anak daerah’ yang belum pernah sekali pun berkunjung ke kota metropolitan, sungguh ada rasa kekaguman dan ketakjuban-bisa dibilang udik-ketika menginjakkan kaki di Jakarta. Selama waktu tersebut, aku disambut oleh pihak WMID dengan ramah dan membuatku nyaman sekali, sehingga sempat terlintas di pikiran untuk tinggal di Jakarta.

4 Agustus, pagi setelah subuh, sekitar pukul 5.30 WITA, ku diantar oleh kakakku yang tinggal di Sungai Ampal ke Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan untuk berangkat ke Jakarta. Sekitar pukul 06.30, aku sudah berada di pesawat dan beberapa saat kemudian lepas landas. Untuk pertama kalinya, aku naik pesawat terbang sendirian dengan tujuan luar Kalimantan tanpa ditemani siapa pun-kecuali penumpang lain dan awak penerbangan-. Awalnya, sih, agak kagok-kaku-karena ku pikir pasti tatacaranya ribet, ini lah, itu lah, ternyata tidak juga. Cuma membayar pajak bandara, menunjukkan sesuatu yang wajib ditunjukkan di sana-tahu sendiri, lah, Anda, hehe-, dan sebagainya, bisa langsung menuju pesawat. Sekitar pukul 9.00 WIB (pukul 10.00 WITA), pesawat yang ku tumpangi pun mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Setelah itu, aku menuju terminal bandara dan menghubungi pihak WMID yang akan menyambutku dan aku disarankan menaiki bus Damri tujuan Blok M-bagian udik, yakni ketika ku terus melihat kaca jendela bus terpaksa dihilangkan demi menjaga citra/image dari penulis, hehe-. Sekitar 20 menit disertai sedikit macet, aku sampai di sana dan disambut dengan bersalaman dengan pihak WMID saat itu, yakni Mas Mul (ku panggil begitu). Menaiki jembatan penyeberangan yang lumayan menguras tenaga, karena saat itu aku berpuasa, kemudian naik busway, lalu sampailah di hotel di kawasan Sudirman di mana aku ditempatkan di situ untuk menginap dan beristirahat sebentar, karena aku dijadwalkan untuk bertemu dengan pengundangku yang bisa membawaku ke Jakarta. Lokasi atau tempat bertemu pengundangku berada di gedung tinggi perkantoran. Wew, naluri ‘udik’-ku muncul. Mataku lumayan terbelalak oleh apa-apa yang sebelumnya tak pernah ku jumpai.

Selama 4 hari 3 malam, sudah banyak kesan dalam benakku mengenai Jakarta. Aku mempunyai sudut pandang tersendiri mengenai Jakarta. Jakarta, dengan segala kekurangannya yang digembar-gemborkan media, mempunyai kelebihan yang menjadi magnet bagi seseorang untuk berkunjung, bahkan tinggal di Jakarta. Kenyamanan dalam menuju suatu tempat untuk memenuhi kebutuhan kita adalah poin utama yang ku tekankan dalam sudut pandangku mengenai Jakarta. Mau beli makanan, dekat. Mau ke tempat wisata dan hiburan keluarga, dekat. Mau ke minimarket, dekat. Mau ke mal, dekat. Mau ke mana-mana, apa pun itu, dekat. Kecuali, bagi yang ingin mendapat tempat sunyi nan sejuk, maka sejumlah warga Jakarta kebanyakan akan pergi ke daerah pegunungan seperti Puncak.

Intinya, apa pun sudut pandang mengenai Jakarta oleh banyak orang, yang jelas, Jakarta merupakan salah satu tempat ku mendapatkan pengalaman yang untuk kali ini cukup mengesankan. Segala hal-hal negatif yang kerap distigmakan kepada Jakarta, nyaris tidak mampir kepadaku, kecuali macet.

Komentar

  1. DI jakarta gak ada yang deket bro kecuali pedagang2 makanan yang berserakan dimana-mana.pengalaman hingga saat ini di JKT. -_-"

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui