Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Menelisik Monumen Berbahasa Jepang di Balikpapan

Gambar
Mengisi liburan akhir tahun 2013, aku memutuskan tuk ke Kota Balikpapan yang berjarak 115 km dari domisiliku saat ini, Samarinda, tepatnya pada tanggal 21 Desember. Waktu tempuh yang ku jalani sekitar lebih kurang tiga jam, mulai dari pukul 17.15 sore dan sampai pukul 20.30 malam dengan bersepeda motor.

Di sela-sela waktu tersebut, aku singgah di masjid selama 20 menit tuk ibadah Magrib dan makan malam selama 15 menit. Kedua aktivitas menyinggah tersebut berlokasi di KM 38 Sungai Merdeka, kecamatan Samboja, Ku-Kar, yang memang menjadi tempat pemberhentian favorit setiap pengendara jalan Soekarno-Hatta. Di Balikpapan, aku menginap ke tempat nenekku tercinta di daerah Gunung Polisi, tetapi rumah sepupu yang berada di depan rumah nenek sedang kosong ditinggal liburan ke Tenggarong. Alhasil, aku ditawari nenek tuk menempatinya sementara waktu. Nenek tidak sendiri, ada cucunya juga yang menginap di tempat beliau, dari Samarinda juga, namanya Ida dan Lia, yang juga mengisi liburan akhir ta…

Perjalanan Menemukan Pesut Mahakam: Ekspedisi Muara Kaman-Tunjungan

Gambar
Berawal dari sebuah postingan di grup Facebook "Save The Mahakam Dolphin" yang isinya akan ada kegiatan perjalanan lapangan ke wilayah habitat Pesut Mahakam, aku tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Selain ada waktu luang pada waktu itu, juga aku sudah lama tidak melihat pesut Mahakam sejak 1996.

Perjalanan lapangan ke wilayah habitat Pesut Mahakam kali ini tercatat sudah yang ketiga kalinya yang diadakan oleh komunitas Save The Mahakam Dolphin. Yang pertama kali diadakan pada September 2013 dan yang kedua diadakan pada Oktober 2013. Sebelumnya aku juga sudah tahu tentang perjalanan lapangan yang pertama dan yang kedua, namun karena aku tidak ada waktu, jadi aku baru bisa mengikuti perjalanan yang ketiga.

Batu Bara dan Panglima Durian di Sudut Antasari

Gambar
Suatu sore pada awal pekan pertama bulan Februari 2013. Seperti halnya dengan hari-hari sebelumnya, aku duduk di pelataran rumah sambil baca koran edisi beberapa hari lalu. Ya, karena aku tidak begitu sempat membaca koran pada hari koran tersebut terbit. Tidak ditemani cemilan dan secangkir teh yang biasanya orang lakukan, aku asyik saja membolak-balik koran. Saat membaca halaman terakhir, ada info tentang kue batu bara. Wah, batu bara?

“That Winter, The Wind Blows”-nya Trans TV Bikin Kecewa Berat!

Gambar
Suatu hari pada tanggal 15 Oktober 2013, siang hari, di saluran Trans TV sedang menayangkan program Insert yang memberitakan bahwa akan drama Korea terbaru yang akan ditayangkan di stasiun TV yang terkenal dengan slogan “milik kita bersama” itu. Wah, suatu terobosan baru untuk TV yang satu itu setelah bertahun-tahun tidak menayangkan drama Korea. Sebagaimana diketahui, TV yang konsisten menayangkan drama Korea baru Indosiar. Untuk Trans TV, beberapa tahun lalu pernah menayangkan drama Korea, setelah itu tidak ada lagi (lupa tahun berapa dan drama yang ditayangkan).
Ujar kabar di Insert tersebut, drama Korea tersebut berjudul “That Winter, The Wind Blows” (selanjutnya disingkat TWTWB). Kucoba meramban di mesin pencari Google, ternyata drama tersebut cukup populer dan meraih rating tinggi di negara asalnya. Drama tersebut disulih suaranya ke dalam bahasa Indonesia oleh pengisi suara (yang menurutku) tak biasa, yakni artis Indonesia, antara lain Reza Rahardian, Rianti Cartwright, Kiki F…

Kala Amukan Api Mengancam Rumahku

Gambar
Lama sekali ku tidak menulis artikel di blog, sejak bulan Mei silam karena kesibukanku yang menjadi-jadi. Akhirnya aku bisa menuangkan isi hatiku dalam bentuk tulisan. Setidaknya aku harus menuliskan isi hatiku daripada mengutarakan kepada seseorang yang belum tentu mau mendengarkanku.

Minggu, 6 Oktober 2013, subuh hari. Aku dibangunkan oleh kakakku, sebut saja namanya Urha. Urha sedang kebingungan mencari senter, karena pada subuh waktu itu, sekitar pukul 05.00, sedang mati lampu. Dalam keadaan setengah sadar, aku berkata kalau senternya tercolok di stop kontak dinding dekat televisi. Lalu aku tertidur lagi.

Dalam keadaan setengah sadar pula, sekitar pukul 06.30, ku dengar ada ribut-ribut di luar. Aku pikir, paling cuma cengkeramaan tetangga. Kebetulan, malam sebelumnya ada acara haul 3 hari meninggalnya salah seorang kerabat tetanggaku. Tapi kemudian ibuku membangunkanku.

Cara Mengatasi Pusing

Gambar
Pusing merupakan sebuah gangguan yang memengaruhi kinerja tubuh, yang kemudian menjalar memengaruhi keseimbangan tubuh. Kadang-kadang pusing juga bisa diakibatkan oleh pengaruh obat. Gejala pusing dapat menimpa siapa saja dan tidak mengenal usia.
Pusing biasanya disebabkan oleh banyak hal baik itu dari sakit yang anda alami mau pun dari beban pikiran yang menumpuk dan belum terselesaikan. Bila pusing telah menyerang maka segala kegiatan anda akan terganggu sebab anda tidak akan bisa berkonsentrasi lagi selama mengerjakan pekerjaan sebab rasa mengganggu yang diakibatkan oleh pusing.
Namun penyebab pusing yang paling banyak kita jumpai adalah pusing akibat masuk angin dan pusing akibat pikiran yang tegang. Nah, untuk pusing yang seperti ini termasuk ringan. Namun jika pusing yang anda alami termasuk berat maka ada baiknya anda segera berkonsultasi ke dokter agar bisa mendapatkan solusinya. Sedangkan untuk pusing yang termasuk ringan, anda dapat menghilangkannya melalui beberapa cara m…

Kisah Di Balik Pemutaran Film Di Balik Frekuensi (bagian 4-terpaksa habis)

Sabtu, 27 April. Tugas menyusun proposal sudah selesai, paginya, aku cetak. Aku serahkan ke ketua Ujur si Uman. Tiba-tiba ia menyerahkan proposal yang sudah susah payah ku buat.
"Ini salah, kenapa proposalnya kayak gini? Kovernya gak standar. Rencana anggarannya terlalu nge-pas." "Habisnya aku gak punya contohnya. Aku dah nunggu kamu buat minta contoh proposalnya kemaren, kamunya di Balikpapan." "Kamu minta sama Yadi aja. Laptopku lagi error."
Alamak. Cape deh ƪ(‾ε‾“)ʃ

Kisah Di Balik Pemutaran Film Di Balik Frekuensi (bagian 3)

Malam harinya, ku melanjutkan mengetik proposal kembali di rumah. Beberapa menit kemudian, ada peringatan baterai laptopku habis. Ku segera mengambil tas untuk mengambil charger laptop. Astaga! Kok tidak ada chargeranku? Aku kelimpungan, bingung, mencari di mana. Ku tanya orang rumah, tak ada yang tahu. Aku pun langsung ke studio karena pada siang harinya tadi aku ke sana. Tapi, tak ku temukan. Aku juga ke sekre, karena tadi siang aku juga ke sana. Tak ku temukan juga. Langsung lemas aku. Tapi, aku tak habis akal. Aku mencoba meminjam charger laptop ke adik kelasku satu jurusan, namanya Ima, tinggal di Rapak Dalam, 5 km dari rumahku. Aku pun segera kontak langsung dengannya via FB karena ku tak punya nomor HPnya. Aku buka FB via internet di warnet dekat gang 3, 500 meter dari rumah.
"punya charger ganda gak?" "hmm, ada charger acer, tapi lg di bawa teman, ada lagi charger advan tapi cocok buat acer (pernah coba di laptop saya), ada juga charger toshiba ni di rumah"…

Kisah Di Balik Pemutaran Film Di Balik Frekuensi (bagian 2)

Setelah dirasa semuanya 'fixed', maka kami pun sepakat menentukan panitia, koordinator, anggota koordinator, dan mengirim formulir sebagai syarat menjadi partner penyelenggara DBF. Saat ku mengecek e-mail beberapa saat kemudian, pihak DBF menyatakan bahwa Ujur telah resmi menjadi partner penyelenggara. Pengiriman materi film pun dikonfirmasi hari tersebut. Pukul 4, kami pun bubar karena rapat telah selesai.
Tapi, hasil rapat tadi hanya berupa corat-coret, bukan berupa proposal yang tersusun sistematis karena ku tak punya contoh proposal yang biasanya dipakai oleh Ujur. Aku pun segera menghubungi Uman untuk meminta berkas-berkas Ujur seperti proposal, dan juga sekalian surat-surat administrasi. Sayangnya, ia sedang di Balikpapan dan berjanji akan memberikannya hari Sabtu tanggal 27 April nanti. Aduh! Mana seminggu lagi mau even pula, pakai ke Balikpapan segala dengan alasan mengurus PKL. Daripada menunggu Uman yang tak jelas kapan jam kepulangannya, aku membuat proposal sendir…

Kisah Di Balik Pemutaran Film Di Balik Frekuensi (bagian 1)

Tanggal 3 April, aku iseng memosting kiriman di grup FB UKM Jurnalistik Polnes mengenai sebuah film dokumenter yang menurutku cukup bagus untuk diputar, apalagi jika digelar oleh Ujur, yakni "Di Balik Frekuensi" (selanjutnya akan disingkat DBF), tapi tak ada tanggapan berupa komentar. Akhirnya, aku berinisiatif untuk mencari tahu lebih dalam mengenai DBF, baik melalui Twitter dan Facebook resminya, situsnya, hingga bertanya langsung melalui email. Balasan pun diterima. Aku mendapat berkas mengenai apa dan bagaimana itu DBF. Aku pun mencetaknya melalui printer sekre (sekretariat Ujur, pen.) dan menaruhnya di meja agar dibaca oleh ketua Ujur bernama Uman. Aku juga berkonsultasi dengan Dirham, anggota senior Ujur mengenai bisa tidaknya Ujur menggelar even ini. 
17 April, aku dihubungi oleh Uman via SMS, ia berkata,"Rif, kamu jadi ketua panitianya, ya?". Ku jawab, "Insya Allah". Langsung, ku mempersiapkan segala sesuatunya dam rapat perdana ku gelar tanggal …

Jalan Sendiri Lebih Enak

Kalo dalam urusan jalan-jalan, aku ni lebih enakan sendirian daripada ngajak teman atau sodara. Soalnya... gini lho ceritanya.
Meski aku tau kalo aku lebih enjoy jalan ke mana-mana sendiri, tapi karena jalan edisi kali ini adalah ke pameran, jadinya aku ngajak temenku satu kelas kursus bahasa Inggris, sebut saja ia Finum dan Aliy. Waktu itu, kalo gak salah hari Rabu pekan terakhir bulan Maret 2013 (saat menulis artikel ini, penulis lupa tanggalnya), saat kami makan bareng di rumah makan dekat Vorfoo, Samarinda, aku ngajak mereka tuk jalan-jalan cuci mata di pameran Kaltim Fair di Hotel Atlit Sempaja. "Eh, kalian ada waktu gak? Kita nonton pameran Kaltim Fair yok di Sempaja", ujarku. Si Finum bilang dengan nada ragu kalau ia akan ikut. Si Aliy juga bilang akan ikut. Kebetulan dia ikut aku nantinya jika jadi jalan-jalan ke pameran. Rencananya kami akan ke pameran pada hari Jumat jam 2 siang.
Besoknya (Kamis), datang SMS dari Aliy yang mengatakan, "Rip, gimana besok pagi …

Suka Korea? Masalah?

Gambar
Annyeong haseyo. Ya, kali ini aku pengen ngeluarin uneg-uneg terpendam nih, tentang kesukaanku dengan hal-hal berbau Korea. Tapi, desas-desusnya, kalau ada cowok (Indonesia) yang suka tentang hal-hal berbau Korea, dibilang “belok” alias h***. Oastaga!!! Pendapat darimana, tuh? Sini, ku ajarin taekwondo, biar ngerti. :D

Sebelum tahun 2012, aku tidak memiliki minat yang signifikan sama hal-hal berbau Korea (dari tadi berbau-berbau terus, ya, emang Korea bau ya? :D) Biasa aja. Tapi, sekitar bulan Januari 2012, aku ditugaskan sama temen buat ngegantiin rancang acara radio yang dia biasanya bawain, yakni Oriental Hitz (OH) di Polnes FM 107.0 Mhz Samarinda, di mana acara tersebut berfokus terhadap lagu dan informasi seputar Korea, Jepang, dan Mandarin (didominasi Korea). Kebetulan aku penyiar di radio itu sejak 2011. Awalnya memang agak malas, karena tidak tahu apa-apa tentang ke-Korea-an. Tapi, sayang juga kalau OH tak diisi penyiar, karena saat itu tak ada penyiar yang minat terhadap lagu…

Menutup Akun Facebook

Gambar
Untuk pertama kali dalam sejarah, aku membuat keputusan besar dalam sejarah kehidupanku di dunia maya: menutup akun Facebook-ku. Ya, Facebook, sebuah situs jejaring sosial terpopuler saat ini. Entah mengapa, dengan santainya aku bisa menutup akunku tersebut. Hanya saja, pada malam sebelumnya, aku sempat merasa dibisiki sesuatu kalau pada esok hari (Jumat, 11 Januari 2013) aku harus menutup Facebook. Serasa dihipnotis, aku menurutinya dan langsung melakukan hal tersebut. Tak ada rasa penyesalan dalam hatiku. Setelah menutup akunku, aku beraktivitas sebagai mahasiswa seperti biasa.
Siang harinya, aku kembali ke kelas setelah melaksanakan Salat Jumat di masjid kampus karena pada siang itu akan ada ujian akhir semester (UAS) mata kuliah Basis Data dan merupakan UAS pertama yang ku jalani. Karena ujiannya dilaksanakan di laboratorium, maka teman-temanku langsung keluar kelas menuju laboratorium yang berada di lantai 2. Setelah duduk di tempat masing-masing, peserta ujian menerima soal, te…