Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

Kisah Di Balik Pemutaran Film Di Balik Frekuensi (bagian 4-terpaksa habis)

Sabtu, 27 April. Tugas menyusun proposal sudah selesai, paginya, aku cetak. Aku serahkan ke ketua Ujur si Uman. Tiba-tiba ia menyerahkan proposal yang sudah susah payah ku buat.
"Ini salah, kenapa proposalnya kayak gini? Kovernya gak standar. Rencana anggarannya terlalu nge-pas." "Habisnya aku gak punya contohnya. Aku dah nunggu kamu buat minta contoh proposalnya kemaren, kamunya di Balikpapan." "Kamu minta sama Yadi aja. Laptopku lagi error."
Alamak. Cape deh ƪ(‾ε‾“)ʃ

Kisah Di Balik Pemutaran Film Di Balik Frekuensi (bagian 3)

Malam harinya, ku melanjutkan mengetik proposal kembali di rumah. Beberapa menit kemudian, ada peringatan baterai laptopku habis. Ku segera mengambil tas untuk mengambil charger laptop. Astaga! Kok tidak ada chargeranku? Aku kelimpungan, bingung, mencari di mana. Ku tanya orang rumah, tak ada yang tahu. Aku pun langsung ke studio karena pada siang harinya tadi aku ke sana. Tapi, tak ku temukan. Aku juga ke sekre, karena tadi siang aku juga ke sana. Tak ku temukan juga. Langsung lemas aku. Tapi, aku tak habis akal. Aku mencoba meminjam charger laptop ke adik kelasku satu jurusan, namanya Ima, tinggal di Rapak Dalam, 5 km dari rumahku. Aku pun segera kontak langsung dengannya via FB karena ku tak punya nomor HPnya. Aku buka FB via internet di warnet dekat gang 3, 500 meter dari rumah.
"punya charger ganda gak?" "hmm, ada charger acer, tapi lg di bawa teman, ada lagi charger advan tapi cocok buat acer (pernah coba di laptop saya), ada juga charger toshiba ni di rumah"…

Kisah Di Balik Pemutaran Film Di Balik Frekuensi (bagian 2)

Setelah dirasa semuanya 'fixed', maka kami pun sepakat menentukan panitia, koordinator, anggota koordinator, dan mengirim formulir sebagai syarat menjadi partner penyelenggara DBF. Saat ku mengecek e-mail beberapa saat kemudian, pihak DBF menyatakan bahwa Ujur telah resmi menjadi partner penyelenggara. Pengiriman materi film pun dikonfirmasi hari tersebut. Pukul 4, kami pun bubar karena rapat telah selesai.
Tapi, hasil rapat tadi hanya berupa corat-coret, bukan berupa proposal yang tersusun sistematis karena ku tak punya contoh proposal yang biasanya dipakai oleh Ujur. Aku pun segera menghubungi Uman untuk meminta berkas-berkas Ujur seperti proposal, dan juga sekalian surat-surat administrasi. Sayangnya, ia sedang di Balikpapan dan berjanji akan memberikannya hari Sabtu tanggal 27 April nanti. Aduh! Mana seminggu lagi mau even pula, pakai ke Balikpapan segala dengan alasan mengurus PKL. Daripada menunggu Uman yang tak jelas kapan jam kepulangannya, aku membuat proposal sendir…