Kisah Di Balik Pemutaran Film Di Balik Frekuensi (bagian 4-terpaksa habis)

Sabtu, 27 April. Tugas menyusun proposal sudah selesai, paginya, aku cetak. Aku serahkan ke ketua Ujur si Uman. Tiba-tiba ia menyerahkan proposal yang sudah susah payah ku buat.

"Ini salah, kenapa proposalnya kayak gini? Kovernya gak standar. Rencana anggarannya terlalu nge-pas."
"Habisnya aku gak punya contohnya. Aku dah nunggu kamu buat minta contoh proposalnya kemaren, kamunya di Balikpapan."
"Kamu minta sama Yadi aja. Laptopku lagi error."

Alamak. Cape deh ƪ(‾ε‾“)ʃ

Harusnya, dari beberapa hari yang lalu dia beritahu kalau aku minta sama Yadi saja. Duh, bikin lelah saja menunggunya dari Balikpapan. Memang bikin esmosi saja orang yang satu ini. Mungkin masih sensitif sama aku gara-gara pernah aku kritik kinerjanya selama jadi ketua.

Terpaksa, aku bikin lagi proposal setelah meminta contohnya kepada Yadi.

Aku buat proposal lagi dan ku lakukan di kampus, mengikuti contoh yang ada di file yang ku minta dari Yadi sampai akhirnya ku ajukan proposal tersebut ke akademik, tepatnya ke Pembantu Direktur bidang kemahasiswaan pada Jumatnya. Esoknya, acara pun digelar setelah 2 hari lalu pengurus tempat acara DBF mengizinkannya. Dan, sukses setelah lika-liku menghadang. (terpaksa tamat)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui