Kala Amukan Api Mengancam Rumahku

Lama sekali ku tidak menulis artikel di blog, sejak bulan Mei silam karena kesibukanku yang menjadi-jadi. Akhirnya aku bisa menuangkan isi hatiku dalam bentuk tulisan. Setidaknya aku harus menuliskan isi hatiku daripada mengutarakan kepada seseorang yang belum tentu mau mendengarkanku.

Setidaknya 2 rumah dan bangsalan 17 pintu hangus terbakar
dalam musibah ini. (fpks)
Minggu, 6 Oktober 2013, subuh hari. Aku dibangunkan oleh kakakku, sebut saja namanya Urha. Urha sedang kebingungan mencari senter, karena pada subuh waktu itu, sekitar pukul 05.00, sedang mati lampu. Dalam keadaan setengah sadar, aku berkata kalau senternya tercolok di stop kontak dinding dekat televisi. Lalu aku tertidur lagi.

Dalam keadaan setengah sadar pula, sekitar pukul 06.30, ku dengar ada ribut-ribut di luar. Aku pikir, paling cuma cengkeramaan tetangga. Kebetulan, malam sebelumnya ada acara haul 3 hari meninggalnya salah seorang kerabat tetanggaku. Tapi kemudian ibuku membangunkanku.

"Rif, Rif, bangun, ada kebakaran!".
"Di mana, ma?"
"Itu, tempat mamanya Lina!"

Aku terperanjat kaget. Aku langsung melihat keluar. Asap sudah membumbung tinggi disertai api. Tanpa dikomando, aku langsung membangunkan Urha dan mengambil barang-barang penting untuk diselamatkan. Barang-barang yang ku selamatkan adalah laptop dan buku tabungan. Ibuku malah mengangkut baju-baju. Sedangkan kakakku Urha terlihat santai saja,"Santai aja, ding! Insya Allah selamat kita."

Setelah mengangkut barang-barang penting dan mengungsikannya ke tempat aman, aku langsung melihat situasi. Ingin rasanya tuk memotret peristiwa kebakaran itu, tapi ku harus menyelamatkan aset penting di rumah dulu.

Setelah si jago merah yang ku lihat tidak merembet ke rumah-rumah di sekitarku, aku pun mengambil kamera dan memotretnya (lihat foto di atas). Menurutku, foto yang ku hasilkan kurang bagus karena api sudah telanjur mengecil. Ah, dasar, jiwa jurnalis ini tidak mau mengalah dari jiwa kemanusiaan. Terlepas dari hal tersebut, aku bersyukur rumahku luput dari lalapan api, setidaknya api itu berjarak 3 rumah lagi dari rumahku.

Setelah api dipadamkan pasukan pemadam kebakaran, aku mengangkut barang-barang yang ku ungsikan kembali ke rumah. Sejam kemudian, lampu menyala. Isi rumah berantakan oleh barang-barang, paling banyak adalah baju ibuku. Alhasil, seharian aku melipat baju-baju. :|

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui