Batu Bara dan Panglima Durian di Sudut Antasari

Suatu sore pada awal pekan pertama bulan Februari 2013. Seperti halnya dengan hari-hari sebelumnya, aku duduk di pelataran rumah sambil baca koran edisi beberapa hari lalu. Ya, karena aku tidak begitu sempat membaca koran pada hari koran tersebut terbit. Tidak ditemani cemilan dan secangkir teh yang biasanya orang lakukan, aku asyik saja membolak-balik koran. Saat membaca halaman terakhir, ada info tentang kue batu bara. Wah, batu bara?

Kolom tentang "Cake Batu Bara" di SKH Kaltim Post edisi 26 Januari 2013 (ist)
Aku langsung mengernyitkan dahi. Batu bara kok dijadikan kue? Hehe, tenang, ini bukan batu bara betulan, tapi memang kue ini warnanya hitam pekat seperti batu bara, tapi bahan dasarnya bukan batu bara, melainkan bahan-bahan kue pada umumnya. Aku pun langsung mencari informasi agar bisa mendapatkan kue Batubara. Meramban sejenak di internet, ternyata dijual di East Kalimantan Center (selanjutnya disingkat EKC), sebuah toko oleh-oleh khas Kaltim di Jalan Antasari, Air Putih, Samarinda.

Tak perlu waktu lama, aku beranjak mengendarai motor dari rumahku di Harapan Baru menuju kawasan Antasari sekitar 30 menit. Sesampainya di kawasan Antasari, motorku kupelankan lajunya ke sebelah kiri sambil menoleh ke kiri-kanan untuk mencari toko EKC.

Nah, dapat!
Langsung saja aku masuk ke EKC dan kulihat pernak-pernik yang dijual menyambut setiap pengunjung yang datang. Karena niatku semula mencari kue Batubara, aku pun langsung bertanya kepada kasir yang berjaga di sana.
"Misi, mbak! Di sini apa benar menjual kue Batubara?"
"Ya, benar. Tapi sayang sekali, mas, kue Batubara-nya sedang habis."
"Aigoo! Tidaaak!", batinku. "Jadi kapan kue Batubara-nya ada, mbak?", tanyaku lagi.
"Mas bisa ke sini lagi hari Sabtu, kue Batubara sudah tersedia."
"Oh, ya sudah jika begitu. Tapi, saya mau lihat-lihat dulu ya pernak-pernik yang dijual di sini."
"Oh, iya, silakan mas!"

Aku langsung menjauhkan diri dari kasir yang ramah meladeni pertanyaanku itu untuk masuk lebih dalam melihat barang-barang dan pernak-pernik yang dijual. Wah, aku sempat takjub karena cukup banyak yang dijual di sana. Mulai dari boneka burung enggang dan pesut, aksesoris khas Kaltim, sampai makanan khas seperti amplang, lempok, gula gait, dan lain-lain. Pokoknya lengkap, deh!

Tapi sayang, karena uang yang ku bawa hanya direncanakan untuk membeli kue Batubara, jadi tidak cukup untuk membeli barang yang ku lirik di sana. Aku pun pamit dengan kasir untuk beranjak dari EKC. Rencananya, aku ke EKC pada hari Sabtu bersama kakak perempuanku, Nur. Dia sangat suka dengan hal-hal yang berbau etnik Kaltim, jadi ku yakin pasti dia suka kalau ku ajak ke EKC Sabtu depan.

Sabtu, 9 Februari 2013. Sekitar jam 2 siang, aku bersama kakakku berkendara dengan sepeda motor menuju kawasan Jl. Antasari menuju EKC. Sesampainya di EKC, kami langsung masuk ke dalam dan melihat-lihat apa saja yang terpajang. Kubiarkan kakakku asyik di bagian suvenir, sedangkan aku di belakang bagian etalase makanan. "Nah, ini dia Batubara yang ku idamkan!", batinku dengan ekspresi senang. Aku taruh Kue Batubara ke dalam keranjang, sambil melihat-lihat makanan lain yang dijual, seperti abon haruan dan kepiting, lempok durian, amplang, dan masih banyak lagi. Aku pun mengambil abon kepiting dan cookies coklat berbungkus kertas. Sedangkan kakakku memilih gantungan kunci dan dompet manik-manik.

Sesampainya di rumah, aku langsung membuka kotak kue Batubara yang bergambar truk tambang itu dan memotong-motongnya. Kami pun langsung menikmati gigitan demi gigitan yang lembut ditambah bongkahan coklat di atasnya. Aku pun intensif membeli Kue Batubara beberapa bulan lamanya sampai untuk penganan hari Raya Idul Fitri.

Kue Batubara tampak dari atas udara. (ezg)
***

Suatu hari di pertengahan September 2013, ketika ku mengamati timeline Twitter, ada tweet dari @eastkalimantan yang sedang mempromosikan Roti Durian Panglima. "Wah, itu roti yang sedang populer itu, ya?", batinku. Saat itu belum ada ketertarikan membelinya karena ku pikir itu roti biasa dan aku mengetahui bahwa harus antre untuk mendapatkan roti itu. Aduhai! (۳˚Д˚)۳

Antre demi roti. (kp)
Sekitar tanggal 7 Oktober 2013, aku tak sengaja membaca koran Kaltim Post edisi tanggal itu dan melihat foto headline orang-orang sedang mengantre membeli Roti Durian Panglima. Waw, sebegitu fenomenal dan enak-kah Roti Durian Panglima sehingga orang-orang tersebut harus mengantre? Aku pun tak mau kalah dengan orang-orang yang sudah mencicipi Roti Durian Panglima, aku pun harus membelinya juga!

Berita seputar Roti Durian Panglima di SKH Kaltim Post edisi 7 Oktober 2013. (kp)
Info yang ku dapat, penjualan Roti Durian Panglima dibatasi 2 kotak per orang dan dimulai sekitar jam 4 sore. Tak masalah bagiku, sore itu pun aku langsung melaju menuju EKC dan ikut mengantre sekitar pukul 4.45 sore. Tiba-tiba ada yang berkata di antara antre,"Rotinya habis!" Duh, padahal tinggal setengah panjang antrean lagi menuju kasir, eh ternyata habis. Asli heh ngesali maha, ujar urang Kutai! (Θ˛Θƪ) Hehe

Keesokan harinya, aku pun mencoba datang lebih cepat menuju EKC daripada kemarin, sekitar pukul 03.45 sore aku sudah sampai di EKC. Tak dinyana antrean sudah mengular sampai ke tepi jalan. Gila bujur!!! Ah, daripada antrean semakin panjang, aku langsung mencari parkiran motor yang pas dan langsung mengambil posisi antre, tepatnya di depan sebuah tempat karaoke. 

10 menit berlalu, tempatku berpijak tidak bergerak sama sekali pertanda antre masih panjang, belum lagi dengan tambahan orang-orang di belakangku. 15 menit berlalu, antrean mulai bergerak maju menuju kasir. Aku sempat membatin, ingin beli yang original atau yang pakai keju. Kulihat isi dompet, ah, ternyata uangku cukup untuk membeli dua-duanya. Asyik!

Akhirnya setelah hampir 30 menit mengantre, dapat juga giliranku untuk membeli Roti Durian Panglima. Kujulurkan lembaran lima puluh ribu Rupiah, kemudian aku diberikan kembalian lembaran lima ribu Rupiah dan struk untuk ditukarkan dengan 2 kotak Roti Durian Panglima oleh kasir. Dengan senang aku langsung keluar untuk segera pulang membawa Roti Durian Panglima yang aroma duriannya harum menusuk hidung. Tiba-tiba, hujan deras melanda. Buru-buru kuselamatkan Roti Durian Panglima dari hujan. Aku segera memasang jas anti-hujan dan langsung melaju sebelum hujan tambah lebat. Ternyata dugaanku benar, hujan tambah lebat, terpaksa ku berteduh di sebuah showroom mobil, masih di bilangan Antasari.

Melihat cuaca di depan mata, sepertinya hujan tambah deras, dan (seperti biasanya) Jl. Antasari bakal tergenang. Ah, daripada aku terjebak banjir lebih baik terobos hujan. Ternyata, sesampainya di kawasan Tepian malah sudah reda hujannya, untunglah keputusanku tepat.

Kotak Roti Durian Panglima.
Sesampainya di rumah, aku langsung membuka kotak Roti Durian Panglima dan isinya, adalah:
Taraaaaaaa!!!! "ƪ(˘⌣˘)┐"ƪ(˘⌣˘)ʃ"┌(˘⌣˘)ʃ"
Roti Durian Panglima dengan rasa original (tanpa keju).
Roti Durian Panglima dengan taburan keju.
Ketika dipegang, tekstur rotinya sangat lembut ditambah selai dari daging durian yang masak, sangat menggugah selera. Karena dibuat dari bahan-bahan berkualitas, termasuk tepung terigu, Roti Durian Panglima ini mengandung zat karbohidrat dan protein serta serat, kalsium, dan kandungan gizi lainnya yang terdapat pada durian (lihat pula 8 alasan memilih Roti Durian Panglima). Saking enaknya, aku dan sekeluarga menyantapnya dengan pelan agar bisa menikmati Roti Durian Panglima lebih lama dan penuh konsentrasi (buset, dah!), rasanya sayang kalau langsung dihabiskan sehingga Roti Durian Panglima-ku baru habis 2 kotak keesokan harinya (tentunya bukan aku saja, tapi bersama keluarga, hehehe), karena membelinya saja penuh perjuangan dengan mengantre.

Roti Durian Panglima ini sangat disarankan bagi pencinta durian dan juga bisa menjadi oleh-oleh khas dari Samarinda. Yang ingin membeli Roti Durian Panglima, jangan lupa tips yang diberikan oleh EKC. Akhir kata, selamat mencoba!! (˘ڡ˘)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui