Perjalanan Menemukan Pesut Mahakam: Ekspedisi Muara Kaman-Tunjungan

Berawal dari sebuah postingan di grup Facebook "Save The Mahakam Dolphin" yang isinya akan ada kegiatan perjalanan lapangan ke wilayah habitat Pesut Mahakam, aku tertarik untuk mengikuti kegiatan ini. Selain ada waktu luang pada waktu itu, juga aku sudah lama tidak melihat pesut Mahakam sejak 1996.

"Field Trip" Pesut Mahakam 3 Muara Kaman-Tunjungan dimulai dari sini!
Perjalanan lapangan ke wilayah habitat Pesut Mahakam kali ini tercatat sudah yang ketiga kalinya yang diadakan oleh komunitas Save The Mahakam Dolphin. Yang pertama kali diadakan pada September 2013 dan yang kedua diadakan pada Oktober 2013. Sebelumnya aku juga sudah tahu tentang perjalanan lapangan yang pertama dan yang kedua, namun karena aku tidak ada waktu, jadi aku baru bisa mengikuti perjalanan yang ketiga.
Perjalanan kali ini diikuti oleh 15 orang, dikomandoi oleh bg Innal, sebagian kecil dari Tenggarong dan sisanya dari Samarinda. Tujuan perjalanan kali ini adalah menyusuri Sungai Kedang Rantau, anak Sungai Mahakam yang berlokasi di Muara Kaman-Kutai Kartanegara, hingga ke desa Tunjungan. Sebagian besar peserta berasal dari komunitas penyelamat orangutan COP (Central Orang Utan Protection) Samarinda, dan sisanya adalah member dari grup Save The Mahakam Dolphin di  Facebook.

Foto dijepret dari atas feri penyeberangan Tenggarong. Tampai proses
pembangunan Jembatan Kukar yang baru di bekas jembatan lama yang
runtuh 2011 silam.
Sabtu, 30 November 2013 merupakan hari pertama perjalanan kami yang dimulai sekitar pukul 12.45 WITA dari titik pertemuan di simpang tiga Bukit Biru-Tenggarong. Setelah semua peserta terkumpul, lima belas menit kemudian semua peserta (selanjutnya disebut rombongan) berangkat menggunakan sepeda motor menyusuri jalan poros Tenggarong-Kota Bangun. Soal kondisi jalan, medannya lumayan bagus, sebagian besar aspal dan sisanya homix, namun masih ada beberapa jalan yang rusak dan berlubang yang mengganggu perjalanan dan cukup berpotensi menimbulkan bahaya. Sekitar pukul 14.00 (jam 2 siang), kami berhenti dan beristirahat sejenak di kawasan KM 40 desa Selerong, kecamatan Sebulu yang berada di ketinggian. Ada yang melepas lelah sambil menyantap makanan ringan, minuman segar, atau pun kopi panas.

Kehujanan di Loleng, Kota Bangun. Terpaksa berteduh di
rumah warga.
Perjalanan dilanjutkan kembali menuju arah Kota Bangun, kemudian bertemu persimpangan menuju Tebalai (mungkin sebuah dusun), daerah seberang Muara Kaman. Tidak ada petunjuk jalan di sekitar persimpangan itu. Kondisi cuaca saat itu sedang hujan yang intensitasnya sedang. Nah, rombongan yang paling depan langsung berbelok simpang ke kanan. Sedangkan aku yang membonceng rekan sesama peserta yang biasa dipanggil Bu Rahma berada di urutan kedua. Ternyata, ada beberapa rekan yang malah meneruskan perjalanan nyaris ke Kota Bangun dan tidak tahu kalau mesti berbelok ke simpang arah kanan, sehingga sebagian rombongan yang sudah masuk ke jalan poros Tebalai harus berhenti sejenak menunggu rekan yang tersasar dan tertinggal untuk berbalik arah.

Jalan Poros Kota Bangun-Tenggarong yang basah diguyur hujan.
Setelah semua anggota rombongan lengkap, kami meneruskan perjalanan ke Tebalai. Sesampainya di Tebalai, kami menitipkan motor di belakang rumah seorang kenalan bg Innal dan kamu melanjutkan perjalanan menggunakan ketinting sebanyak 3 buah. Ketinting itu sendiri sudah jauh-jauh hari di-booking oleh bg Innal untuk disewa selama 2 hari 1 malam dengan tarif Rp250.000,00 di luar ongkos BBM. Pukul 16.30 WITA kami berangkat dengan 3 buah ketinting dan mampir sebentar di Muara Kaman untuk membeli bensin masing-masing 10 liter per ketinting.

Tebalai
Menanti giliran menyeberang.
Kapal yang kami gunakan untuk menyeberang.
Rekan-rekan di kapal pertama.
Semriwing!!!
Pukul 17.30 kami sampai di rakit milik BKSDA untuk Cagar Alam Muara Kaman-Sedulang untuk menunggu kemunculan Pesut Mahakam. Namun selepas 30 menit tidak ada tanda-tanda kemunculannya, akhirnya kami teruskan perjalanan memasuki Sungai Kedang Rantau. Pukul 17.50, akhirnya kami melihat Pesut Mahakam. Ada sekitar tiga ekor yang terlihat saling silih berganti muncul ke permukaan sambil mengeluarkan udara yang ada di atas kepalanya. Bussshhh... Terlihat antusiasme dan raut gembira dari kami serombongan. Meski hanya sebentar, tapi itu sudah lebih dari cukup.

Rakit milik BKSDA yang berada persis di persimpangan Sungai Mahakam
dan Sungai Kedang Rantau.
Kapan rekan kedua.
Pesut yang sering disebut lumba-lumba air tawar, untuk di Indonesia hanya bisa ditemukan di Sungai Mahakam, Provinsi Kalimantan Timur. Sungai Mahakam melewati beberapa kabupaten yang ada di sisi sungai, seperti Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Barat. Menemukan Pesut Mahakam adalah hal yang tidak mudah, apalagi populasi mereka saat ini tidak lebih dari 100 ekor. Tahun 90-an, pesut mahakam selain lebih mudah di temui di Muara Kaman, Kutai Kartanegara, juga bisa di temukan di Muara Pahu, Kutai Barat. Bahkan banyak warga yang mengaku pernah melihat pesut mahakam di kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda, Ratusan kilometer dari Muara Kaman, dan lebih jauh lagi jika dari Muara Pahu.

Belok ke kanan, masuk Sungai Kedang Rantau.
Hari sudah mulai gelap. Kami masih berada di ketinting menyusuri Sungai Kedang Rantau. Motoris kami saat itu, Bg Innal, terlihat berhati-hati dalam mengendalikan ketinting. Maklum, ketinting yang kami tumpangi tidak dilengkapi lampu sorot, sehingga kami menggunakan apa saja (mulai dari lampu kepala, HP, dan senter) untuk memberi sinyal atau tanda bagi kapal lain yang melintas dan juga untuk mengetahui posisi kapal kami dengan rekan-rekan yang lain agar tidak tertinggal jauh atau pun tersasar. Beruntung ada sedikit cahaya bulan sehingga membantu kami menghindari eceng gondok yang banyak di sepanjang sungai yang bisa membuat ketinting kami tersangkut dan tak bisa bergerak.

Senja hari di Kedang Rantau.
Syukurlah, setelah perjalanan malam menyusuri Sungai Kedang Rantau yang cukup menyeramkan, kami melihat banyak cahaya lampu di depan, pertanda desa Tunjungan sudah di depan mata. Ketinting kami kemudian merapat ke sebuah warung terapung (kalau di Kalsel atau Kalteng lebih dikenal dengan sebutan rumah Lanting) untuk makan malam, aku membantu sang motoris mendayung agar bisa ke tepi. Sesampainya di warung terapung, ternyata menu yang ada hanya mi instan. Mau tak mau kami memilih makan mi instan daripada tak makan sama sekali. Selepas makan malam, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk bersantai, ada pula yang mandi, berbagi informasi, dan ngobrol seputar rencana untuk esok hari. Beruntung kami bisa menumpang tidur di rakit tersebut. Tidak itu saja, kami juga dipersiapkan ruangan sendiri, dengan alas kasur dan bantal. Namun aku dan rekan-rekan lain ada yang memilih tidur di luar, ada yang di teras depan, dan ada juga yang di perahu. Ada juga yang tidak tidur dan melakukan aktivitas memancing.

***
Pemukiman di desa Tunjungan.
Minggu, 1 Desember 2013. Hari pertama di bulan kedua belas dan hari kedua kami serombongan melakukan perjalanan ke Muara Kaman. Pagi-pagi sekali kami bangun karena rakit yang kami tumpangi adalah warung terapung, sehingga saat pagi hari pemilik rakit sudah membuka tokonya yang isinya lumayan lengkap, mulai dari warung makan, pecah belah hingga bensin eceran. Sementara makanan tuk sarapan sedang dimasak, beberapa peserta rombongan ada yang memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan di kampung Tunjungan yang berada di atas warung terapung dengan menaiki tangga dan menyusuri titian karena tidak ada jalan aspal, apalagi jalan tanah di Tunjungan. Sedangkan aku berada di sisi belakang rakit warung terapung untuk menggosok gigi. Maunya sih mandi, tapi kondisi tidak memungkinkan.

Dusun Nangka Bonah, pusat pemerintahan desa Tunjungan.
Makam tokoh agama di Nangka Bonah.
Pukul 7 pagi, sarapan sudah siap, kami pun makan bersama. Setelah itu, kami mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, yakni ke Dusun Nangka Bonah, yang secara administratif masih berada di wilayah desa Tunjungan. Di dusun inilah fasilitas umum seperti kantor desa, gedung SD, puskesmas pembantu, dan masjid berada. Sekitar pukul 8 pagi, kami sampai di Nangka Bonah. Rekan-rekan lain akan melakukan kampanye pelestarian pesut Mahakam dengan menempelkan poster-poster di sudut-sudut kampung. Karena membawa ketinting sendiri, tiga rekan membawa ketinting dan menunggu di ujung kampung. Hal ini dimaksudkan supaya rekan-rekan yang menyebar poster tidak perlu kembali ke titik awal, sehingga lebih menghemat waktu dan tenaga.

Rekan-rekan berpose sambil memang poster promosi "Save Pesut Mahakam"
Naik ketinting, balik ke hilir.
Satu setengah jam kemudian, aksi selesai dan kami kembali ke hilir arah Muara Kaman. Rekan-rekan peserta rombongan begitu antusias akan kegiatan tersebut, terlebih lagi mendapat sambutan yang menyenangkan dan bersahabat dari warga kampung ditemui, mulai dari anak-anak hingga orangtua. Walau ada beberapa warga kampung yang "sambutannya" kurang menyenangkan (tidak peduli dengan pesut Mahakam), namun kami sadar, tak semua orang mempunyai pikiran yang sama, terlebih jika berhubungan dengan mata pencaharian. Semoga dengan poster yang kami sebarkan akan membuka mata hati dan kesadaran mereka akan pesut Mahakam. Di desa ini kami temukan beberapa jenis burung seperti Bangau Tong Tong (Leptoptilus javanicus) yang statusnya di lindungi oleh UU yang di pelihara warga (lebih tepatnya di ikat di atas keramba). Satwa ini dari penuturan warga berguna jika ada binatang buas / berbahaya mendekat ke rakit atau orang yang tak dikenal, karena akan bersuara keras sehingga warga bisa mengetahui hal tersebut. Di beberapa kampung selain Bangau Tong Tong, ada juga yang memelihara Cangak merah, Cangak Abu, hingga elang.

Pesut mahakam kini populasinya terancam punah, dan banyak faktor penyebab menurunnya populasi pesut mahakam. Mulai dari pencemaran sungai mahakam (limbah rumah tangga / masyarakat, pabrik / perusahaan sawit & Batubara), metode penangkapan (strum, trawl, potas) & alat tangkap ikan yang tidak ramah / berbahaya bagi pesut mahakam secara langsung (rengge / jaring) dan tidak langsung (mengurangi jumlah ikan yang juga makanan utama pesut mahakam), ramainya transportasi air (tertabrak / terkena baling – baling kapal, ketinting, longboat, speed boat), hingga rusaknya ekosistem lingkungan yang ada di sisi sungai mahakam yang berperan penting sebagai zona pendukung sungai Mahakam.

Saat di perjalanan pulang, pukul 10.00 wita baru saja melewati Tunjungan, kami kembali beruntung menemukan pesut Mahakam yang berenang ke arah Tunjungan, ada 3 ekor! Rekan–rekan langsung mengabadikan momen langka tersebut menggunakan kamera dan Handycam. Hanya 30 menit selepas itu pesut menghilang di balik banyaknya enceng gondok. Kami tidak mengikuti pesut mahakam, karena kami takut hal tersebut malah membuat pesut mahakam terganggu. Kami memilih menunggu di pinggir sungai selama kurang lebih 1 jam, dan pesut mahakam tidak terlihat lagi saat itu. Kami pun memutuskan meneruskan perjalanan, dan menunggu kemunculan pesut mahakam di simpang muara antara desa Tunjungan, Sabintulung dan Muara Kaman saat pukul menunjukan jam 12.00 wita. Rekan – rekan ada yang memilih tiduran, mancing, dan ada juga yang memasak mie instan menggunakan kompor kecil yang menggunakan tabung seukuran penyemprot nyamuk, maklum belum ada yang makan siang sejak berangkat. Selama 1 jam tidak ada tanda kemunculan pesut mahakam kami lanjut lagi ke Muara Kaman.

Pukul 13.30 wita kami berjumpa kembali dengan pesut mahakam, sama seperti sebelumnya, tidak terlalu lama namun untuk jumlah lebih banyak sekitar 5 ekor. Padahal kami mengharapkan bisa berjumpa dengan pesut Mahakam saat berburu ikan, karena saat itu biasanya jumlahnya lebih banyak dan lebih sering muncul ke permukaan tanpa merasa terganggu. Namun bertemu pesut Mahakam sebanyak 3 kali sejak kemarin hingga saat itu, sudah merupakan keberuntungan yang luar biasa. Sekitar 15 menit berlalu, pesut Mahakam terus masuk ke dalam sungai Kedang Rantau, kami pun tidak mau mengganggu dan terus melanjutkan perjalanan kembali. Di perjalanan salah satu ketinting mengalami gangguan, tali starter mesin ketinting putus. Beruntung kami selalu beriringan sehingga bisa di atasi dengan menggandeng ketinting hingga ke Muara Kaman. Pukul 15.00 wita, kami sampai di Muara Kaman dan sebagian rekan–rekan makan siang, sambil menunggu kemunculan pesut Mahakam lagi di rakit BKSDA, sambil menunggu rekan yang memperbaiki ketinting yang bermasalah tadi. Pukul 15.30 wita tidak ada pesut Mahakam lagi yang terlihat kami pun bergegas ke Tebalai supaya tepat waktu mengembalikan ketinting yang kami sewa. Perjalanan kembali dilanjutkan menggunakan sepeda motor, dan berhenti saat sampai di KM 40 Selerong untuk istrirahat. Jam 19.00 wita kami lanjut lagi ke arah tenggarong, kondisi cuaca yang lagi – lagi hujan membuat perjalanan harus dilalui dengan ekstra hati–hati. Satu jam lebih kami sampai di Tenggarong, dan berpisah dengan rekan–rekan. Semoga perjalanan berikutnya kami bisa berkumpul dan melakukan perjalanan lapangan lagi, dan pesut Mahakam terus lestari.

Jalan pulang menuju Tenggarong.

---
(diolah seperlunya dari catatan bg Innal Rahman berbentuk .docx)

Komentar

  1. Jadi kangen lama gak pulang ke Loleng begitu liat foto terakhir tikungan tajam Atas kampung Loleng..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui