Akhir Kerumitan dan Awal Kebahagiaan (Untold of Ezagren)

Jumat malam, tanggal 3 Januari 2014, menjadi malam paling rumit dalam kehidupan pribadiku. Bagaimana tidak, aku terdesak untuk 'memutuskan hubungan berpacaran' dengan seorang perempuan yang sudah lebih dari 3 bulan menjalin relasi denganku. Sebut saja dia Bu-ji (bukan nama sebenarnya). Karena seorang sahabat yang biasa kujadikan tempat curhat, sebut saja dia A-ri, sedang sibuk, maka blog-lah tempatku curhat saat ini. Kisah ini dimulai dari sebuah malam di paruh akhir September 2013.

Senin malam, tanggal 23 September 2013, aku janjian dengan Bu-ji untuk siaran bersama di stasiun radio milik kampus. Aku menjemputnya dari rumah sekitar jam 6.30 senja. Kami siaran bersama selama 2 jam. Sekitar jam 9, kami pun keluar dari studio. Aku ajak dia ke belakang stasiun radio (selanjutnya disebut studio) dan aku nyatakan cinta kepadanya dan dia terima. Alhasil, sejak saat itu aku dan Bu-ji berpacaran. Aku pun mewanti-wanti kepadanya agar tak memberitahu hubungan ini ke siapa pun karena aku tak suka publikasi hal yang menurutku ini sangat pribadi. Tapi, Bu-ji telanjur mengatakan kepada kakak perempuannya yang bernama Gup-sil (sebut saja begitu) ketika ia pulang ke rumah setelah ku antar. Dari sinilah, aku sudah merasa tidak nyaman dengan hubungan ini.

Orang-orang dekat seperti teman-teman sekelasku dan sekelasnya pun tahu kalau aku dan dia berpacaran. Aku disorak-soraikan oleh teman-teman sekelasku seolah-olah aku melakukan hal yang salah. Aku pun di-ciee-ciee-kan (entahlah apa padanannya dalam bahasa Indonesia) oleh teman-teman sekelasnya, yang notabene adik kelasku, utamanya oleh Yeo-sin (lagi-lagi bukan nama sebenarnya). Kupingku serasa panas oleh itu. Tapi, aku coba tahan itu. Aku harus tetap menjalani hubungan ini.

Suatu kali, ketika aku di rumah dan hendak pergi mengajar jam 4 sore, dia meneleponku agar mengantarnya pulang ke rumah dari studio selepas bersiaran. Aku bilang tidak bisa, tapi dia sedikit memaksa dan akhirnya dengan muka masam aku melaju menuju studio menggunakan sepeda motor. Aku berhentikan motor di depan studio dan tidak berkata apa-apa. Ia keluar dan dengan bahasa isyarat aku menyuruh Bu-ji untuk naik. Sepanjang perjalanan aku tidak berkata apa-apa. Dia terus-terusan berkata,"Marah, ya?" Aku diam saja sampai dia menangis. Oh, tidak! Ini pertama kalinya aku menangisi seorang perempuan. Aku lantas menenangkannya sepanjang perjalanan. Aku pun berputar haluan dari arah ke rumahnya menuju arah sebaliknya. Aku tak mau mengantarkannya pulang dalam keadaan pipi basah berderai air mata akibat keegoisanku. Aku mencoba lagi menenangkannya. Tiba-tiba turun hujan. Aku berhenti sejenak untuk mengambil jas hujan. Aku suruh Bu-ji untuk masuk ke dalam jas hujan ke dekapanku di belakang. Hujan makin deras dan kami pun makin basah. Aku pun terpaksa berhenti sejenak di teras sebuah rumah. Dia mulai tenang. Aku memeluknya, meski tidak romantis karena jas hujan masih melekat di badanku. Hujan reda, aku pun mengantarkannya pulang. Aku merenung sepanjang perjalanan berniat dalam hati tidak akan lagi membuatnya menangis. Malam harinya, Gup-sil, kakaknya Bu-ji, meng-SMS aku, "kamu apakan adikku?", Oh, tidak!

Dua bulan telah berjalan, aku semakin tidak nyaman dengan hubungan ini. Sifatnya yang manja membuatku tak bisa memahaminya. Kami sama-sama anak bungsu. Biasanya anak bungsu memiliki sifat manja dan egoisme yang tinggi. Selain itu, dia sering sekali meneleponku di saat aku sedang tidak bisa diganggu (baca: badmood). Tapi, sebagai seorang pacar, aku tidak mungkin bilang "aku ga bisa diganggu" atau "aku sibuk", tentu itu bukanlah jawaban yang diinginkan olehnya. Nyatanya seringkali aku bilang seperti itu. Sejak HP-ku rusak beberapa bulan belakangan, aku sudah jarang menerima telepon sehingga sering sekali aku mengabaikan panggilan telepon. Paling-paling, hanya SMS yang biasa kulakukan. Sisanya, lewat media sosial seperti Twitter dan Facebook. Tidak jarang, aku mengabaikan panggilan telepon dari ibuku sendiri. Aku pun langsung menelepon balik minta maaf.

Suatu waktu pada pekan terakhir bulan November 2013, beberapa hari menjelang ulang tahunnya, aku berniat untuk mencoba bersikap lebih baik kepada Bu-ji. Aku luangkan waktu untuk mencari kado yang bagus untuknya. Aku meramban Google via internet dan mengetikkan zodiaknya, Taurus. Dalam sebuah laman, orang yang berzodiak Taurus suka memasak. Aha, langsung saja aku ke sebuah toko buku dan membelikan buku resep. Aku juga mempersiapkan sebuah brownies dan lilin untuk ditiupnya esok hari. Singkat cerita, aku menyuruh Bu-ji datang ke studio pagi hari pada tanggal ulang tahunnya. Saat dia membuka pintu studio, aku menyetel lagu selamat ulang tahun dalam bahasa Korea dan dari grup musik Jamrud secara on-air. Bu-ji senang sekali. Aku pun turut senang. Dia meniup lilinnya. Aku juga memberikannya kado di dalam sebuah tas karton. Setelah itu, kami langsung naik ke gedung jurusan dan masuk kelas masing-masing.

Malam harinya, aku membuka laptop dan meramban akun Facebook-ku. Entah kenapa, aku merasa hubungan ini semakin tidak nyaman hingga ku putuskan untuk mengubah status kami dari berpacaran menjadi "rumit". SMS pun datang darinya dan aku hanya menjawab,"cuma ngerasa rumit aja".

Hal tersebut berlangsung selama sebulan. Selama sebulan tersebut aku menolak segala panggilan teleponnya. Saat liburan akhir tahun pun, aku tidak mengabarinya bahwa aku ke Balikpapan dan ke Tanah Ulu walau satu SMS pun karena HPku sedang rusak. Hingga hari Jumat malam tanggal 3 Januari 2014 itu pun datang. Secara halus, aku mengungkapkan bahwa aku tidak bisa menjalani hubungan berpacaran ini lagi, dan aku mau 'turun tingkat' menjadi bersahabat. Aku tidak bisa menguraikan percakapanku dengannya via telepon karena aku sangat tidak konsentrasi waktu itu. Selepas itu, dia mengucapkan terima kasih dengan nada bicara yang dibuat-buat dan menutup telepon. Aku menelepon balik dan mencoba menjelaskan penyebabnya, namun HPku lagi-lagi mati. Pembicaraan pun berakhir sampai di situ. Perasaanku campur aduk. Aku yakin dia pasti sedang menangis setelah itu. Aku sempat berkata via telepon ingin menjadi sahabat baginya, namun ia belum merespon hingga kini.

***

Keesokan harinya, pada hari yang cerah, aku memulai kehidupan sebagai lajang alias jomblo. Hari itu, Sabtu, tanggal 4 Januari, aku masuk kuliah dan kulihat di kelas tak ada siapa pun kecuali dua temanku. Mereka bilang kalau tidak ada perkuliahan hari ini. Alamak, andai saja tahu lebih baik tidak usah masuk. Daripada duduk di kelas yang panas, aku meluncur turun ke studio dan ada penyiar yang sedang on-air pada pagi itu, namanya Saturi (lagi-lagi bukan nama sebenarnya). Aku pun berselancar di dunia maya sampai siang di bawah dinginnya AC.

Besoknya, hari Minggu, aku membuka laptop dan meramban Facebook. Aku dikagetkan (sebenarnya ga kaget-kaget amat sih) dengan foto Bu-ji sedang berangkulan seorang pria. Pria itu aku kenal, meski sebatas temannya temanku. Dalam postingannya, dia berkata "Senang sekali bersama Jaeng-gin (bukan nama sebenarnya)". Sempat ku pikir Jaeng-gin itu kakak-kakak-annya Bu-ji. Ku amati foto tersebut, mereka berfoto dengan latar belakang studio. 

Jaeng-gin dan Bu-ji.
Ciee ciee!

"Hmmm ternyata dia sudah punya gandengan baru", batinku. Cemburu? Tidak ada gunanya lagi karena sifat tersebut hanya dimiliki oleh orang yang memiliki pasangan. 

Aigoo!

Yang membuatku heran dan bertanya-tanya, dia menjalin dengan Jaeng-gin keesokan harinya, di mana kami berpisah pada tanggal 3 Januari, dan dia jadian dengan Jaeng-gin tanggal 4 Januari. Ini membuatku berspekulasi. Jangan-jangan.... ah, untuk spekulasi yang satu ini aku akan mengulasnya di artikel tersendiri. Nantikan saja, ya! Anda sebagai pembaca mungkin bisa membuat spekulasi.

Setidaknya, aku merasa tenang karena Bu-ji telah berada dalam naungan sesosok pria yang lebih baik dariku, daripada aku dan dia merasa tertekan dan tersiksa dalam hubungan ini. Aku tidak bisa memberikan apa yang Bu-ji butuhkan: kasih sayang dan perhatian. Bu-ji pasti telah berkesimpulan kalau dia salah mencintai seseorang sepertiku. Setiap kali dia menghubungiku dan aku abai, aku cuma bisa bilang kalau aku sibuk. Sibuk mengantar ortu, lah. Sibuk mengajar, lah. Sibuk fokus Tugas Akhir, lah. Tapi, aku cuma bisa beri alasan itu, karena alasan pokok di balik kecuekanku kepadanya adalah sebuah masalah yang lebih baik ku simpan sendiri sampai masalah tersebut selesai.

Aku cuma bisa berharap, semoga Bu-ji bahagia dengan kekasih barunya yang dijalin pasca SEHARI berpisah denganku, meski dia saat ini sedang LDR (long distance relationship) dengan Jaeng-gin. Meski hanya sekilas melihat profil Jaeng-gin di akun media sosialnya, aku mencoba berkeyakinan bahwa Jaeng-gin bisa membuat Bu-ji senang. Jika Bu-ji saja percaya dengan Jaeng-gin dengan cara menjalin hubungan sebagai pasangan yang berselang SEHARI pasca aku dan Bu-ji berpisah, maka aku pun juga harus percaya juga kepada Jaeng-gin, seperti halnya Bu-ji.

Selepas perpisahan dari Bu-ji, aku putuskan sementara untuk tidak menjalin pertalian kasih dengan perempuan mana pun karena penyebab perpisahanku dengan Bu-ji adalah aku merasa tidak cocok dengannya, bukan karena ada orang ketiga, meski pun ibuku selalu mendesakku agar memiliki kekasih. Ya, ibuku sangat demokratis terhadap anak-anaknya kini, karena sebelum era reformasi ibuku sangat tegas terhadap kakak-kakakku. Aku ingin berfokus dulu terhadap keluarga di rumah (ibu dan kakakku), Tugas Akhir sebagai syarat lulus dari politeknik tempatku kuliah, dan komunitas yang menambah wawasanku, yakni Wikipedia, Pesut Mahakam, dan Polnes FM. Aku pun masih punya pandangan bahwa dalam Islam tidak dikenal istilah pacaran, karena pacaran bisa menimbulkan dua dosa, yakni dosa karena menjalin hubungan yang bukan mahram dan menyakiti pasangannya ketika konflik terjadi.

Banyak rekan-rekan yang menyebut kalau aku dan Bu-ji mirip. Entah mirip muka atau mungkin postur. Aku kadang menyanggahnya karena menurutku itu cuma lelucon mereka. Kata orang (orangnya siapa ya?), kalau sepasang kakasih memiliki kemiripan tertentu, biasanya akan berjodoh. Nyatanya, aku dan Bu-ji berpisah. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

Jika saja A-ri nanti tahu akan kisah ini, pasti nanti dia akan mencak-mencak dan menceramahiku kenapa aku berpisah dengan Bu-ji. Jujur, aku kagum padanya. Dia bisa mempertahankan hubungan dengan kekasihnya yang bernama Mi-na (sebut saja begitu) selama hampir 4 tahun semenjak kelas 11 SMA sampai tulisan ini diterbitkan. Kebetulan Mi-na sekelas dengan A-ri. Kebetulan pula Mi-na satu kampus denganku, hanya saja beda jurusan dan dia masuk kelas siang sehingga aku dengan Mi-na jarang bertemu. Andai saja A-ri sudah lulus kuliah dan punya pekerjaan yang mapan, pasti ia sudah melamar Mi-na dan mereka pun menikah. Yeay! Meski aku dan A-ri sudah menjalin persahabatan sejak kelas 10 SMA, tapi aku masih enggan belajar banyak soal percintaan dan membahagiakan kekasih darinya. Itulah kesalahanku yang membuat Bu-ji selalu meneteskan air mata.

***

Bu-ji, ku harap itu tetesan air mata terakhir yang ku perbuat. Semoga dengan pria di sisimu sekarang, kamu merasa nyaman dan bahagia sesuai keinginanmu, sehingga aku bisa melihat senyummu setiap kali aku melihatmu, sebagai adik kelas, meski pun itu dari jauh, bukan kemurungan yang terakhir aku lihat pada Jumat pagi ketika aku berkendara ke gedung jurusan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian