Perjalanan Menemukan Pesut Mahakam: Ekspedisi Kota Bangun-Muara Muntai

Pada tanggal 28-29 Desember 2013, aku melakukan perjalanan lapangan (field trip) pesut Mahakam untuk kedua kalinya bersama rekan-rekan komunitas Save the Mahakam Dolphin (selanjutnya disingkat SMD). Tujuan perjalanan kali ini adalah daerah Kota Bangun, Muara Muntai, dan sekitarnya, masih dalam wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Di sinilah perjalanan bermula!

Hari pertama. Aku sudah bersiap-siap sejak pukul 7 pagi. Kali ini aku tidak sendiri. Ada kakakku, Nur, yang ingin ikut juga melakukan perjalanan lapangan. Alhasil, satu motor diisi kami berdua. Pukul 7.30, kami berdia berangkat menuju Tenggarong, sekitar 1 jam perjalanan darat melalui jalur Bukit Pinang-Tenggarong Seberang. Kami terlebih dahulu singgah di pertigaan Tenggarong Seberang karena di sana ada seorang rekan dari Samarinda yang ikut perjalanan ini. Bu Rahma, demikian beliau bisa ku panggil. Pada perjalanan sebelumnya, aku bersama bu Rahma satu motor karena motorku rusak. Beliau seorang guru di sebuah SMK di Samarinda.

Setengah jam kemudian, tepatnya pada pukul 8, kami berdua sampai di pertigaan Tenggarong Seberang. Sudah ada bu Rahma menunggu di tepi jalan. Langsung saja ku sapa.
"Halo, bu! Selamat pagi! Bagaimana? Apa kita langsung berangkat saja?"
"Ya, kita langsung berangkat, karena tidak ada lagi orang yang mesti kita tunggu."
"Henson bagaimana?"
"Dia sedang ada acara, jadi mungkin dia menyusul belakangan."

Selepas bercakap-cakap sejenak, kami pun langsung berangkat. Bu Rahma mengendarai motornya sendiri. Sedangkan aku dan kakakku dalam satu motor. Kami beriringan satu sama lain. Setengah jam kemudian, kami sampai di pelabuhan feri untuk menyeberang ke Tenggarong. Sejak Jembatan Kutai Kartanegara runtuh 2011 silam, maka kapal feri jadi moda transportasi penyeberangan utama. Kapal feri yang kami tumpangi gratis karena dibiayai oleh pemkab setempat.

Mengantre untuk menyeberang.

Sesampainya di Tenggarong, kami melaju menuju persimpangan Bukit Biru, titik pertemuan rekan-rekan sesama komunitas SMD. Saat menuju Bukit Biru, ada rekan dari Balikpapan yang sudah menunggu, tapi di pos satpam sebuah hotel. Pak Firdaus dan anaknya, Ferdi, menyapa kami. Mereka baru pertama kali mengikuti perjalanan lapangan ini. Mengobrol sejenak, kami bertiga (tiga sepeda motor) langsung menuju Bukit Biru. Di sana sudah ada Nurul, rekan sesama komunitas SMD. Terhitung sudah ada enam orang termasuk aku yang menunggu di titik pertemuan Bukit Biru. Setengah jam kemudian datanglah bg Innal beserta istri, Ami, dalam satu motor, dan Ichsan beserta Nazmi, anak dari bg Innal. Sudah 10 orang yang berkumpul. Tinggal menunggu 3 orang lagi, yakni Henson, Foni, dan Fachmi, menurut 'undangan' FB. Setengah jam kemudian, mereka pun datang. Alhasil, pukul 11.10 jelang siang kami pun berangkat menuju Kota Bangun dengan sepeda motor masing-masing. Cuaca saat itu cukup cerah sehingga perjalanan berjalan lancar.

Singgah dan beristirahat sejenak.

Satu jam kemudian, kami pun berhenti di KM 40 Selerong untuk beristirahat sejenak. Ada pula yang ke masjid terdekat untuk beribadah Zhuhur. Setengah jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Kota Bangun.

Sekitar pukul 14.00 atau jam 2 siang, kami sampai di Kota Bangun. Tujuan pertama kami adalah Pasar Tambak Sari, sebuah pasar tradisional di Kota Bangun untuk membeli bahan makanan untuk di Sangkuliman nantinya. Bubuhan binian (perempuan)-nya-lah yang berbelanja.

Spanduk ini disponsori oleh ...

Selesai berbelanja, kami singgah di warung makan "Acil Ujung Aspal" di bilangan Kota Bangun Ilir untuk makan siang.

Bagian depan warung.

Rekan-rekan serombongan

Kuman .. kuman .. (makan .. makan .. -bahasa Dayak-)

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Liang Ulu untuk menyeberang ke Sangkuliman menggunakan kapal ulin penyeberangan. Pukul 16.00 atau jam 4 sore, kami sampai di rakit pemantauan Pesut Mahakam dan bermaksud bermalam di sana. Aku memanfaatkan waktu sore hari melepas lelah karena perjalanan yang cukup menguras tenaga. Ada pula rekan-rekan lain yang melakukan aktivitas lain. Ada yang memasak untuk makan malam, ada yang menjala ikan untuk lauk, ada yang di depan rakit menunggu kemunculan pesut, ada pula yang tidur-tiduran.

Menyeberang via Liang Ulu

Sampai juga dengan selamat di Sangkuliman

Di tengah-tengah derasnya Mahakam yang luas.

Menyusuri titian di Sangkuliman

Mumpung masih ada waktu, aku mengajak Nur untuk jalan-jalan sekitar kampung Sangkuliman menggunakan sepeda motor sekaligus membeli es batu untuk bahan minuman makan malam nanti. Ku ajak pula rekan-rekan yang berminat untuk ikut, ada bu Ami, bu Rahma, Nurul dan Foni.

Jajan dulu, ah!

Selesai jalan-jalan di sekitar kampung, aku dan rekan-rekan lain bermaksud untuk naik ke Jembatan Pela yang persis berada di sisi rakit. Untuk naik ke Jembatan Pela, kami harus menyeberang dari rakit menggunakan ketinting karena Jembatan Pela sampai saat ini tidak memiliki akses jalan penghubung darat.

Ujung jembatan: air!

Kotoran hewan sepanjang jalan.

Ada 7 orang yang ikut naik ke Jembatan Pela. Ujung jembatan ini masih buntu, malah salah satu ujungnya menuju ke rawa-rawa. Di atas jembatan ini banyak sekali kotoran hewan dan serangga semacam rangit mengiang-ngiang di telingaku. Menanti senja, beberapa rekan berfoto bersama dan aku hanya sebagai pemotretnya, karena aku tak suka dipotret. Tidak fotogenik. :3

Ketika matahari sudah terbenam, kami pun beranjak dari jembatan. Tiba-tiba ada yang berseru,"Pesut! Pesut!" Langsung saja ku siapkan kamera. Aku arahkan kamera ke sungai dan terlihat sekitar 2 sampai 4 ekor pesut. Sayangnya, karena kondisi sudah mulai gelap, tidak banyak foto yang bisa diabadikan.

Penampakan pesut (ditunjukkan oleh panah).

Malam harinya, waktu kami habiskan untuk berdiskusi dan saling tukar pandangan seputar kegiatan nantinya. Aku berharap bisa melihat penampakan pesut Mahakam pada malam itu, minimal semburannya. Tapi karena aku masih belum peka, jadi aku tidak mendengar apa-apa dari sungai. Mata mulai sayup, aku pun memutuskan untuk tidur lebih awal di suatu sudut rumah rakit.

Sekitar pukul 1.30 atau jam setengah 2 dini hari, aku dibangunkan oleh suara kegaduhan dari ruangan sebelah. Rupanya sedang terjadi hujan deras disertai angin kencang. Bahkan bisa dibilang badai! Ya, baru kali ini aku merasakan hujan deras dan angin sekencang ini. Badai ini membuat air hujan masuk dari celah jendela dan pintu yang membuat ruangan tempat rekan-rekan beristirahat menjadi basah, yang sering diistilahkan sebagai tempias. Kami pun terbangun semua. Beberapa rekan ada yang mengepel lantai, ada yang mencoba menutup jendela dan menyumbat celah-celah pintu. Karena badai masih berlangsung sampai jam 3 dini hari, akhirnya beberapa rekan pindah ke kamar atas dan ada juga yang memilih pindah untuk tidur di belakang rumah rakit di samping tumpukan karung pakan ikan. Sedangkan aku tidur di ruangan sebelah yang sudah dipel lantainya.

***

Hari kedua. Pagi itu hujan sisa badai semalam masih turun, namun tak selebat malam tadi. Beberapa rekan bangun agak siangan, karena sempat terbangun akibat badai. Selepas bangun, aku langsung menuju tepi rakit untuk mandi di sungai. Tidak mencebur, sih! Tapi aku tidak merasa kedinginan seperti badai semalam. Selesai mandi, aku pun ikut nimbrung bersama rekan-rekan laki-laki untuk sarapan bersama. Sedangkan rekan-rekan perempuan sarapan belakangan, karena tempat kami makan tidak cukup luas untuk ber-13.

Keluar dari Sungai Pela menuju "laut" Semayang.

Sekitar pukul 9 pagi, kami berangkat menuju Muara Muntai sambil sesekali memantau perairan Sungai Pela untuk menemukan pesut Mahakam. Menuju Muara Muntai kami tempuh sekitar dua jam dengan rute melewati Danau Semayang, Danau Melintang, dan masuk ke sebuah sungai kecil seperti terusan yang langsung tembus ke Muara Muntai. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju hulu ke Batuq, desa terakhir di Muara Muntai. Kata bg Innal, selepas desa Batuq ke arah hulu maka sudah masuk Kabupaten Kutai Barat, tepatnya kawasan Penyinggahan.

Dari dalam ketinting, aku menyusuri "laut" (Danau
Semayang).

Memasuki sungai Rebaq Rinding tembus ke Muara Muntai.
Kalau di Kalteng-Kalsel, sungai yang seperti ini biasa
disebut antasan/anjir. Nah, belum tahu kalau dalam bahasa
setempat.
Sekitar jam 11 siang, kami sampai di desa Batuq. Dari ujung kampung di hulu, kami berjalan kaki sambil memasang poster Save Pesut Mahakam hingga ke ujung kampung di hilir.

Ketinting yang kami gunakan.

Weisss... larut di tikungan. Ga cuma amor aja yang bisa
larut, ketinting pun juga, tapi di kelokan sungai. :DD

Menepi ke Batuq.

Jalan titian kayu ulin di Batuq.

Menempel poster.



Gelondongan kayu yang masih terlihat hilir-mudik di
Mahakam.
Setengah jam kemudian, aksi menempel poster selesai. Perjalanan kami lanjutkan ke hilir, yakni ke Muara Muntai. Di Muara Muntai, kami langsung mencari warung makan untuk makan siang.

Pemukiman di bantaran Sungai Muntai

Dermaga utama menuju Muara Muntai

Salah satu sudut pemukiman terpadat di Muara Muntai.

Makan siang dulu.

Selesai makan siang, kami lanjut menempel poster, namun tidak banyak karena waktu yang tidak cukup. Selain itu, pak Firdaus dan anaknya harus segera pulang ke Balikpapan agar tidak kemalaman.

Pada perjalanan pulang ke Sangkuliman, kami tak berhasil menemukan pesut Mahakam. Namun, saat sampai di rumah rakit beberapa rekan melihat pesut lewat dari arah muara Pela menuju Semayang sambil mengabadikannya lewat kamera. Banyaknya ketinting yang lewat membuatku tak bisa mengabadikan pesut melalui jepretan. Meski begitu, kami cukup senang, setidaknya bisa melihat secara langsung pesut mahakam yang saat ini tengah berjuang bertahan hidup di tengah gempuran ancaman terhadap pelestarian mereka.

Sekitar pukul 16.00 atau jam 4 sore, kami beranjak dari rumah rakit dan pamit dengan penjaga rumah rakit yang baru ku ketahui belakangan. Kami pun menyusuri jalan yang sama seperti saat kami berangkat. Aku sempat melihat sebuah mobil terperosok ke dalam jurang yang tak begitu dalam. Untung saja pengemudinya selamat dan terlihat berdiri di pinggir jalan menunggu mobil derek. Kalau tidak salah, TKP berada di KM 48 poros Tenggarong-Kota Bangun.

Menyusuri jalan pulang.

Terbalik dan masuk jurang. Pengemudi selamat.

Setelah singgah di KM 40 Selerong menjelang magrib, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Tenggarong dan semua pun berpisah di persimpangan Bukit Biru menuju rumah masing-masing. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Aku dan kakakku melewati jalan yang sama ketika berangkat. Namun, untuk penyeberangan menggunakan kapal feri dari warga dan membayar Rp5000 untuk sekali menyeberang.

***

Hutan yang gundul karena sawit dan batubara membuat lingkungan sekitar sungai mahakam mulai rusak dan tidak bersahabat. Ramainya jalur transportasi air sewaktu-waktu bisa menabrak mereka atau menyebabkan mereka menyelam lebih lama di air, dan dikhawatirkan bisa membuat pesut mahakam kehabisan napas karena takut naik ke permukaan karena bisa terkena baling-baling kapal, maupun perahu. Persaingan dengan manusia dalam mendapatkan makanan (ikan merupakan makanan utama pesut mahakam selain udang, namun saat ini begitu banyak nelayan lokal yang juga bersaing dengan nelayan lainnya dalam mendapatkan ikan sehingga rentan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan ikan, mulai dari potas, strum, jaring / rengge hingga trawl dan tidak pandang ikan masih kecil atau sedang dalam tahap bertelur), hingga sampah non organik dan B3 yang kerap dibuang ke sungai mahakam oleh masyarakat sekitar dan kapal / ketinting yang lewat. Hal ini perlu diingatkan kembali dan dicari solusinya.

Walau saat ini ada napas segar dengan akan diresmikannya Kawasan Perlindungan Pesut Mahakam, mulai dari Muara Kaman (Kedang Rantau hingga Tunjungan dan Sabintulung), Kedang Kepala (Muara Siran) hingga Muara Pela dan Danau Semayang, namun jika tidak diawasi dan didukung segenap lapisan masyarakat dan stakeholder yang terkait, semua itu akan sia-sia, dan pesut mahakam akan hanya bisa kita lihat di negara lain (dengan status yang sama dengan pesut mahakam, yakni terancam punah) atau patung memorial yang ada di Samarinda, Tenggarong, Balikpapan, atau di sepanjang jalan dan kantor yang ada di Kalimantan Timur.

Lestarikan pesut mahakam!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Menghilangkan Latar Belakang (Background) Putih pada Gambar/Foto dengan Corel PHOTO-PAINT X6

Doa Ketika Memakai dan Melepas Pakaian

Lia, Kakak Angkat Obama yang Tidak Diakui